AB814. Mencegah Tri As Ula, Memotong Jalur Nasib Tiga Kosong

 
 

Rahma Sarita: assalamualaikum wr wb

HAL:  Mencegah Tri As Ula, Memotong Jalur Nasib Tiga Kosong

 
 

Kemunculan kasus pak Komjen Budi Gunawan belakangan ini, dimana asal pak Komjen Budi Gunawan adalah sama seperti asal pak presiden Jokowi yaitu dari Solo, seperti juga temanku di SD dulu yang bernama Yanto dari keluarga keraton Solo, mengingatkan aku pada momen-momen saat aku sekolah di SD Trisula.
Alamat sekolahku itu sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu sudah berganti dari jalan Pegangsaan Tengah menjadi jalan Penataran. Tapi pada papan nama diatas yang dipotret sekitar tahun 2012, maupun spanduk dibawah ini yang difoto oleh Google Maps untuk Street View pada tahun 2013, masih menggunakan nama jalan Pegangsaan Tengah.
foto: googlemaps streetview
Plang nama jalan Penataran di ujung jalan kalau masuk dari dekat bioskop Metropole d/h Megaria.     foto: googlemaps streetview
Pada latar belakang tampak bioskop Metropole 21 d/h Megaria. Sebelah kanan yang kelihatan sedikit zebra cross, merupakan jalan masuk ke jalan Penataran tempat sekolahku SD Trisula dulu. Semula jalan Penataran itu cuma pendek saja, dari seberang jalan Borobudur masuk dari jalan Proklamasi, sampai ke tikungan di samping Gedung Pola dekat rel kereta , dan kemudian jalanan lebih lanjut setelah tikungan itu sudah masuk ke jalan Pegangsaan Tengah. Tapi sejak sekitar 10 tahun yang lalu, jalan Penataran jadi lebih panjang karena bagian yang semula bernama jalan Pegangsaan Tengah itu dirubah menjadi jalan Penataran juga.    foto: googlemaps streetview
googlemaps
Bioskop Megaria pada tahun ’60-an.    foto: wikimedia.org
Sejak sekitar akhir tahun ’80-an bioskop Megaria berubah nama jadi Megaria 21.    foto: travel.detik.com
Sejak tahun 2000-an bioskop Megaria berubah nama jadi Metropole 21.    foto: googlemaps streetview
wikimedia.org
Nilai 30 yang aku peroleh saat lulus ujian akhir SD Trisula dekat bioskop Megaria, membuat aku khawatir, apakah aku ditakdirkan untuk membuat tiga menjadi kosong, orang-orang yang terkait dengan tiga diangkat dari dunia ini dan lalu kiamat. Namun kemunculan kasus Kapolri belakangan ini, dimana presiden Jokowi dan Komjen Budi Gunawan sama-sama dari Solo, sehingga mengingatkan aku pada temanku dulu di SD yang bernama Yanto yang konon merupakan famili dari keraton Solo dan sering pindah sekolah, memunculkan inspirasi bahwa solusi untuk aku menghindari takdir penyebab tiga menjadi kosong adalah dengan aku pindah tempat keluar dari Indonesia, mewujudkan rencana perjalanan ke berbagai tempat di dunia.
Memori yang ada di kepalaku soal momen-momen saat sekolah di SD Trisula, seperti mendapat isyarat dari langit berupa kemunculan istilah “SD Card” yang sejak tahun 2005 menjadi populer. Secure Digital Card atau disingkat SD Card yang dipopulerkan oleh perusahaan SanDisk sejak tahun 2005, sekarang umum digunakan untuk penyimpan data dalam gadget-gadget, seperti kamera dan handphone. Sehingga seperti isyarat dari langit agar aku jangan lupa bahwa ada soal penting dari memoriku di SD Trisula dulu, terkait dengan nilai 30 yang aku peroleh saat lulus ujian SD yang.terkait dengan nasib umat manusia.
gamefeedersonline.com
amazon.com tested.com
talkandroid.com
gamefeedersonline.com
techsling.com gotmedia.com
letsgodigital.com amazon.com
cardrecovery-blogspot.com
android-wonderhowto.com

 
 

Soal ini muncul di kepalaku sejak sekitar empat hari yang lalu, tapi aku seperti ada firasat untuk menunggu dulu isyarat dari Twitter Bill Gates. Dan ternyata isyarat itu muncul dalam tweet Bill Gates pada 17 Januari 2015 jam 3.00 AM pagi WIB pada kode link “14A2Stp”.

Kemunculan kasus pak Komjen Budi Gunawan belakangan ini, mengingatkan aku pada momen saat aku sekolah di SD Trisula selama enam tahun dari tahun 1966 sampai 1971, atau kalau ditambah dengan TK berarti delapan tahun dari tahun 1964 sampai 1971. Sebab seperti disebutkan oleh media, pak Komjen Budi Gunawan seperti juga pak presiden Jokowi adalah sama-sama kelahiran Solo. Sehingga mengingatkan aku pada masa-masa aku sekolah di SD Trisula dulu, dimana antara lain ada temanku yang bernama Yanto dan dikenal luas oleh para murid lain karena Yanto itu berbadan lebih tinggi dari para murid lain, konon karena memang dia bandel sehingga sering pindah sekolah dan usia dia beberapa tahun lebih tua dari rata-rata murid SD yang sekelas dengan dia. Menurut info yang aku dengar, Yanto merupakan anggota keluarga keraton Solo, tapi aku tidak tahu apakah dari Kasunanan atau dari Mangkunegaran.

Ada satu hal yang mengganggu pikiranku beberapa tahun belakangan ini kalau ingat soal SD, yaitu bahwa aku lulus dari SD pada tahun 1971 dengan nilai 30. Padahal angka 30 itu seperti berarti tiga menjadi kosong, dan sebagaimana yang sering aku sebutkan kalau orang-orang  yang terkait dengan 3 dikosongkan, diangkat dari dunia ini, dapat terjadi kiamat akibat perebutan senjata-senjata pemusnah masal. Nilai 30 yang aku peroleh saat lulus ujian akhir SD membuat aku khawatir, apakah aku ditakdirkan untuk membuat tiga menjadi kosong, orang-orang yang terkait dengan tiga diangkat dari dunia ini dan lalu kiamat. Kekhawatiranku semakin menguat karena saat ini istilah “SD” menjadi populer dalam kegiatan sehari-hari, sebab berbagai gadget sekarang menggunakan SD Card untuk menyimpan data, seperti untuk kamera dan handphone. Dari info di Internet aku ketahui bahwa istilah “SD” untuk memory card penyimpan data itu merupakan singkatan dari Secure Digital, dan dimasyarakatkan sejak tahun 2005 oleh SanDisk perusahaan yang sebelum itu memang sudah menghasilkan pelengkapan penyimpanan memory antara lain flash-disk atau dikenal juga dengan sebutan USB. Kepopuleran SD Card beberapa tahun belakangan ini seperti isyarat dari langit agar aku tidak lupa bahwa ada soal penting yang harus aku lakukan terkait dengan nilai 30 yang aku peroleh saat lulus ujian akhir SD itu.

Kemunculan kasus pak Komjen Budi Gunawan belakangan ini, yang sama-sama berasal dari Solo seperti pak presiden Joko Widodo,  mengingatkan aku pada temanku dulu di SD yang bernama Yanto yang konon merupakan famili dari keraton Solo dan sering pindah sekolah, sehingga memunculkan inspirasi bahwa solusi untuk aku menghindari takdir sebagai penyebab tiga menjadi kosong adalah dengan aku pindah keluar dari Indonesia, mewujudkan rencanaku melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia untuk menggal inspirasi.

Saat aku SD itu, sekolahku SD Trisula terletak di jalan Pegangsaan Tengah 2 Jakarta Pusat, yang sejak sekitar sepuluh tahun belakangan ini diganti nama jadi jalan Penataran. Letak sekolahku SD Trisula itu dekat dengan bioskop yang dulu pada jaman Belanda bernama Metropole, lalu waktu jaman Bung Karno dirubah nama jadi Megaria, setelah itu pada tahun ’80-an jadi Megaria 21, dan beberapa tahun belakangan ini dirubah lagi jadi Metropole 21. Nama bioskop Megaria mengingatkan pada nama mbak Megawati ketua umum PDI Perjuangan yang mendukung pak presiden Jokowi. Sedangkan nama Metropole mengingatkan pada dua hal, yaitu pada Metro TV yang dimiliki pak Surya Paloh ketua partai Nasdem yang juga mendukung pak presiden Jokowi, dan juga mengingatkan pada kata Polisi yang belakangan ini sedang ramai akibat kasus presiden Jokowi mengajukan pak Komjen Budi Gunawan untuk menjadi Kapolri, namun kemudian setelah disetujui oleh DPR, pelantikan beliau sebagai Kapolri ditunda oleh pak presiden Jokowi karena masih ada kasus hukum dengan KPK.

Pada waktu aku di SD Trisula itu juga, ada peristiwa penting terkait tetanggaku di sebelah rumah. Seorang perempuan muda berusia sekitar duapuluhan bernama Ula yang tinggal di sebelah rumahku, meninggal dunia karena minum Obat Merah konon akibat hubungan dia dengan sang pacar tidak direstui oleh keluarga. Obat Merah sudah umum terdapat di hampir setiap rumah, untuk mengobati luka terutama pada rumah yang ada anak kecil. Dalam istilah medis Obat Merah jaman dulu itu adalah Mercurochrome. Tapi sejak akhir tahun ’90-an Obat Merah dibuat dari Iodine, bahan yang lebih aman. Ula tinggal di rumah nomer 15, famili dari bu Latjuba yang merupakan nenek dari Sophia Latjuba, sedangkan aku tinggal di rumah nomer 13. Baru pada beberapa hari belakangan ini aku jadi berpikir, nama sekolahku SD Trisula dan kasus tetanggaku Ula bunuh diri minum Obat Merah itu, jadi seperti isyarat dari langit agar jangan sampai terjadi “Tri as Ula”, orang-orang yang terkait dengan 3 diangkat dari dunia ini akibat minum Obat Merah. Dan isyarat ini jadi penting, karena sekarang ini kekuatan merah sedang menonjol, terkait warna merah yang biasa didentikkan dengan komunis, dimana Partai Komunis Cina berkuasa di Tiongkok yang saat ini menjadi kekuatan besar dunia, sebab negara Tiongkok sekarang merupakan negara dengan ekonomi yang disebut sudah melampaui Amerika Serikat, dengan cadangan devisa Tiongkok merupakan yang terbesar di dunia mencapai 4 triliun dollar AS.

Kembali ke soal angka 30 saat aku lulus SD Trisula itu. Saat itu aku lulus dari kelas enam SD waktu aku mendapat nilai 30 dari ujian akhir. Kata-kata “kelas enam” seperti berarti “ke last end AM”, yaitu aku AM Firmansyah ketemu ajal paling akhir. Berarti solusi agar jangan terjadi 30, jangan terjadi tiga menjadi kosong yang dapat menyebabkan kiamat, maka aku tidak boleh meninggal belakangan, tidak boleh meninggal paling akhir. Dan pada waktu di SD Trisula itu, aku tidak pernah pindah ke sekolah lain. Jadi solusi untuk mencegah agar jangan sampai tiga menjadi kosong, agar jangan sampai tiga menjadi sebagai Ula yang minum Obat Merah, adalah dengan aku memotong jalur nasib tiga menjadi kosong itu, yaitu dengan aku pindah tempat, pergi ke luar negeri sesuai rencanaku melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia untuk menggali inspirasi.

Kode link “14A2Stp” yang terdapat pada tweet Bill Gates tanggal 17 Januari 2015 jam 3.00 AM pagi waktu Jakarta itu seperti terkait soal ini. Angka “14” seperti terkait namaku Firman yang dalam bahasa Jerman atau Belanda kata “fir” berarti 4. Lalu huruf “A” seperti dari kata bahasa Inggris “Abroad”, yang berarti luar negeri. Angka “2” dibaca “two” yang terdengar seperti kata “to” yang berarti untuk atau agar. “Stp” seperti berarti “Sekolah tidak di jalan penataran”, alamat sekolahku SD Trisula itu.  Jadi kalau dalam waktu dekat ini Bill Gates membeli lukisan-lukisanku, harus aku realisasikan perjalananku ke beberapa tempat di dunia di luar negeri, untuk menggali inspirasi sebelum kemudian aku ketemu ajal untuk kebaikan umat manusia. Sehingga aku terhindar dari “ke last end AM”, aku meninggal dunia belakangan dari yang lain.

Bagian soal solusi aku pergi pindah tempat ke luar negeri itu aku tulis pada 17 Januari 2015 sekitar jam 21.00 malam, dan respon Bill Gates muncul sekitar 4 jam kemudian pada tweet 18 Januari 2015 jam 1.01 AM dinihari lewat tengah malam, berupa “Why do people die young? It depends on where they live”. Jadi seperti lampu hijau untuk aku pindah tempat ke luar negeri merealisasikan perjalananku ke beberapa tempat di dunia di luar negeri, untuk menggali inspirasi sebelum kemudian aku ketemu ajal untuk kebaikan umat manusia. Sehingga aku terhindar dari keadaan “ke last end AM mendapatkan 30”, aku meninggal dunia belakangan dari yang lain setelah tiga menjadi kosong.

 
 

Jakarta,  19 Januari 2015.
wassalam,

 
 

a.m. firmansyah
sms +62812 183 1538

 
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: