AB865. Soal Perjalanan Dan Mengubah Pikiran Negatif Jadi Positif, Membangun Energi Negatif Jadi Positif

 
 

Rahma Sarita: assalamualaikum wr wb

HAL: Soal Perjalanan Dan Mengubah Pikiran Negatif Jadi Positif, Membangun Energi Negatif Jadi Positif

 
 

Tweet terbaru Katy Perry yang dimuat menjelang aku menulis surat ini, adalah mengenai kegiatan flying-fox yang dia lakukan dengan latar hutan hijau. Jadi seperti kelanjutan yang aku sebut di “Respon Katy Perry Paris Hilton Soal Bioskop Dan Kombi Biru Muda Serta Lalu Mengangkasa Dan Bill Gates Soal Meow” mengenai nama belakang Katy Perry seperti terkait temanku Ferry yang setelah dia mulai dekat dengan cewe yang tinggal di sebelah rumahku di jalan Sukabumi 13 Jakarta Pusat, lalu aku pindah ke jalan Limo 17 dekat Permata Hijau.
Pada tweet sebelum itu tanggal 12 Agustus 2015 Katy Perry memuat ungkapan”peek-a-boo” yang kalau dalam bahasa Indonesia adalah “ciluk ba” untuk anak kecil. Tapi “peek-a-boo” itu juga seperti berarti “pick Abu”, terkait nama belakang temanku Ferry itu yatu Ferry Abu dan istilah “pick” yang berarti pilih.
Pada tweet 15 Agustus 2015 Katy Perry memuat soal Hyperloop, kendaraan semacam kereta api yang sedang dikembangkan oleh Elon Musk, pengusaha muda yang sudah berhasil dalam bisnis antara lain mobil listrik merk Tesla dan roket swasta Space-X untuk kirim satelit. Hyperloop berupa semacam kereta api yang meluncur di dalam tabung bertekanan sangat rendah, sehingga memungkinkan untuk meluncur mendekati kecepatan suara yaitu sampai sekitar 760 mil per jam atau 1220 km/jam. Kecepatan suara adalah sekitar 1236 km/jam.
Memang kalau aku ingat-ingat, banyak kejadian bersejarah yang jadi seperti terkait dengan kepindahanku dari jalan Sukabumi 13 Jakarta Pusat ke jalan Limo 17 dekat Permata Hijau pada tahun 1982 itu, dimana kemudian aku tinggal di jalan Limo itu sampai tahun 1992. Seperti aku ungkapkan diatas, menjelang kepindahanku itu temanku Ferry mulai dekat dengan cewe yang tinggal di sebelah rumahku. Beberapa tahun kemudian pak BJ Habibie yang masih famili dekat dengan Ferry menjad Wapres dan lalu jadi Presiden pada tahun 1998. Pada awal aku tinggal di jalan Limo dekat Permata Hijau sekitar tahun 1983, suatu hari aku datang ke studio radio Ramako yang waktu itu masih di jalan Biduri Permata Hijau. Setelah disitu beberapa saat, lalu waktu aku akan pulang pas sedang baru datang pimpinan radio Ramako itu yaitu pak Bambang N. Rahmadi, saat itu masih kerja di Bank Duta Ekonomi dan merupakan menantu dari pak Sudharmono. Beberapa tahun kemudian pada tahun 1988 pak Sudharmono jadi Wapres, dan lalu pak SBY yang bernama panjang Susilo Bambang Yudhoyono jadi presiden tahun 2004 lalu terpilih lagi tahun 2009.
Pada tahun 1983 saat aku datangi, studio radio Ramako berada di kawasan perkantoran/pertokoan seperti pada foto ini di jalan Biduri Bulan, Permata Hijau. Waktu itu kaveling di depan kantor studio radio Ramako itu masih kosong, belum berisi rumah-rumah seperti pada foto di bawah ini. Kawasan perkantoran / pertokoan itu memang sedikit unik, yaitu tidak terletak di tepi jalan besar sebagaimana biasa melainkan masuk di dalam kompleks perumahan.
Beradu punggung dengan deretan yang ada radio Ramako itu, ada deretan lain di jalan Biduri 1 yang antara lain terdapat kantor PT Tunas Tasik dimana aku diterima kerja pada tahun 1983, sebagai sales untuk produk yang digunakan oleh pabrik-pabrik/industri yaitu anti karat Noverox dan las dingin Belzona.
Pada tahun 1983 aku diterima kerja di PT Tunas Tasik berdasarkan iklan di koran, lokasi kantor di kawasan yang sama seperti studio radio Ramako cuma beradu punggung, radio Ramako di deretan kantor yang terletak di jalan Biduri Bulan, sedangkan PT Tunas Tasik di deretan kantor yang ada di jalan Biduri 1. Kemudian aku ketahui pimpinan dan pemilik perusahaan PT Tunas Tasik itu adalah pak Handoko yang biasa dipanggail pak Ahok. Dan ternyata beberapa tahun kemudian pada tahun 2012 pak Ahok Basuki Tjahja Purnama terpilih jadi wakil gubernur mendampingi pak Jokowi yang terpilih jadi gubernur.
 
 
Beberapa kejadian bersejarah lain terjadi saat aku tinggal di jalan Limo antara tahun 1982 sampai 1992. Tahun 1987 satu hari setelah aku telepon bekas tetanggaku Bimo yang waktu itu sudah pindah ke Bintaro, lalu terjadi tabrakan Kereta Api yang dikenal dengan tragedi Bintaro dengan korban tewas 156 orang seperti yang aku tulis di soal tidak datang ke Halal-Bi-Halal 2015 teman-teman SMA 3. Tahun 1988 untuk pertama kali Indonesia mendapat medali Olympiade yaitu medali perak cabang Panahan putri di Seoul, oleh para atlet Nurfitriyana Saiman, Lilies Handayani, Kusuma Wardhani, dengan pelatih Donald Pandiangan, setelah aku berkenalan dengan pak Saiman Kusmin manager di Seiko Blok M seperti yang aku tulis di soal medali pertama Olympiade untuk Indonesia Pak Nahan 1988. Tahun 1989 saat aku kerja di American Express ada yang bernama Rina Triana dalam tim salesku, dan kemudian tahun 1993 pak Try Sutrisno jadi wapres. Pada tahun 1989 itu pula terjadi perubahan sejarah dunia berupa tembok Berlin runtuh, lalu negara-negara Eropa Timur yang semula berkiblat ke Uni Sovyet mulai berubah haluan menjadi lebih demokratis, dan negara Uni Sovyet bubar pada tahun 1991.
 
Waktu ayahku setuju untuk pindah rumah dari jalan Sukabumi 13 Jakarta Pusat pada tahun 1982, saat itu ayahku sedang sering berbisnis dengan beberapa orang yang sebagian besar asal Betawi antara lain pak Mansyur, pak Ali, pak Nasrullah, pak Suhaimi, yang rata-rata tinggal di daerah Kebayoran Lama sekitar Sukabumi Ilir – Sukabumi Udik. Mereka pula yang bantu mencarikan rumah di sekitar situ, ada yang rumah dijual, ada yang tanah kosong, ada yang rumah untuk dikontrak. Dan yang dipilih oleh ayahku adalah kontrak rumah di jalan Limo 17 dekat Permata Hijau itu, milik pak haji Awab tapi sudah atas nama sang anak Marulloh. Dan, ini yang menarik, tandatangan ayahku itu sejak lama memang seperti tertulis “Awab”, sehingga ibuku juga suka bertanya kenapa tandatangan ayahku seperti itu, namun ayahku tidak pernah kasih tahu. Mungkin terkait nama kakekku Abdurrahman Kusumonegoro. Ketika kemudian saat pindah dari rumah jalan Sukabumi 13 Jakarta Pusat yang sudah ditempati selama 25 tahun sejak tahun 1958, lalu mendapat rumah kontrakan milik pak Awab, jadi seperti isyarat semua itu sudah tertulis di langit.
Rumah kembar jalan Limo 17 dan 18 dekat Permata Hijau, di tengah-tengah diantara kedua rumah itu ada  halaman misterius yang seperti “tanah tak bertuan”, karena selain tidak bisa dimasuki dari jalan depan rumah, juga diberi pagar tembok baik ke halaman rumah nomer 18 maupun ke halaman rumah nomer 17, seperti terlihat pada denah diatas.
Rumah kembar jalan Limo nomer 17 dan 18, dekat Permata Hijau, kurang lebih berbentuk seperti diatas ini. Kedua rumah kembar itu milik pak Haji Awab dan sekitar tahun 1982 yang nomer 17 dikontrakkan ke ayahku. Konon sebelum itu belum pernah dikontrakkan, cuma ditinggali oleh pemillik maupun anak famili pada saat-saat tertentu. Setelah yang nomer 17 dikontrakkan ke ayahku, lalu yang nomer 18 juga dikontrakkan ke orang lain. Sekarang kedua rumah tu sudah berubah bentuk jadi seperti di bawah ini berdasarkan foto-foto di Google Maps Street View. Dan nomer rumah sudah berubah, bukan lagi 17 dan 18 melainkan 9 dan 10. Memang dulu waktu aku tinggal disitu, nomer rumah di jalan Limo  yang cukup panjang itu tidak beraturan. Nomer 17 itu selain rumah yang aku tempati, juga ada nomer 17 lain di ujung lain jalan Limo, yang dekat jalan Raya Kebayoran Lama. Sering ada surat kesasar, bahkan juga parsel kalau sekitar Lebaran. Rumah di sebelah yang dimiliki dan dihuni oleh pak Haji Karim bersama keluarga, bernomer 8, tapi lalu rumah yang aku tempati langsung nomer 17, padahal pas bersebelahan. Sekarang nomer rumah itu seperti sudah ditata lagi, sehingga setelah rumah nomer 8 lalu nomer 9 dan kemudian nomer 10 dan nomer 11. Rumah yang dulu nomer 18 dan kembar dengan nomer 17 yang aku tempati, sekarang menjadi nomer 10 dan tampak sudah menjadi rumah mewah bertingkat. Sedangkan nomer 17 yang dulu aku tempati dan sekarang jadi nomer 9, meski sudah berubah tapi tampak tetap sederhana dan malah ada warung soto sekarang.
 
 
 
Rumah  jalan Limo 17 Kebayoran Lama dekat Permata Hijau, yang merupakan satu dari rumah kembar nomer 17 dan 18 dan dikontrakkan, merupakan rumah sederhana saja, buatan sekitar tahun 1975, luas tanah sekitar 400 meter, memanjang ke belakang.  Perbedaan rumah nomer 17 dan 18 terletak pada posisi kiri dan kanan, yaitu kalau dilihat dari jalan di depan rumah, maka pada rumah yang aku tempati itu garasi berada di bagian kiri, sedangkan pada rumah nomer 18 garasi ada di kanan. Ada bagian yang sedikit misterus yaitu di tengah antara kedua rumah itu, terdapat halaman misterius yang kosong yang seperti “tanah tak bertuan” karena diberi pagar tembok baik ke arah halaman rumah nomer 18 maupun ke arah halaman rumah nomer 17. Halaman misterius itu memanjang dari depan ke belakang, lebar sekitar 3,5 meter dan ada selokan kecil terbuka di bagian tengah. Air buangan dari 4 kamar mandi kedua rumah itu melewati selokan-selokan kecil terbuka menuju ke satu selokan yang sama yaitu di halaman misterius itu, seperti terlihat pada peta diatas. Untuk masuk ke halaman misterius itu tidak bisa dari arah jalan di depan rumah, sebab halaman memanjang itu tidak memilki pagar yang bisa dibuka dari jalan di depan rumah, melainkan berupa pagar tembok.  Aku tidak sempat tanya apa sebab ada halaman misterius itu diantara kedua rumah, tapi mungkin untuk parkir Angkot, sebab pak Haji Awab pemilik rumah itu juga punya beberapa Angkot, yang kalau sedang tidak narik diparkir di halaman rumah beliau yang cukup luas di ujung lain jalan Limo yaitu dekat jalan Raya Kebayoran Lama. Pada peta diatas terlihat panjang halaman misterius yang ada di antara dua rumah Limo 17 dan Limo 18 itu bisa memuat sekitar 4 Angkot. Tapi mungkin waktu itu rencana untuk menjadi parkir Angkot itu sekedar cadangan saja, dalam arti untuk anak-anak beliau yang saat itu masih usia mahasiswa-mahasiswi, kalau kemudian sudah berumah tangga dan ingin punya Angkot juga, maka sudah tersedia tempat parkir Angkot yaitu di “halaman misterius” di antara kedua rumah itu. Selokan di bagian tengah halaman misterius itu mungkin karena kalau mobil Angkot suka ada ceceran oli dari mesin, jadi sekalian dibuatkan selokan di tengah agar mudah dibersihkan.
 
Bagian surat ini yang mengenai aku sempat ketemu muka dengan pak Bambang Rachmadi tahun 1983 saat aku akan pulang dari kunjungan ke radio Ramako di Permata Hijau yang beliau tangani, aku muat pada 18 Agustus 2015 pagi sekitar jam 8. Respon Bill Gates muncul pada 19 Agustus 2015 jam 10.56 PM malam hari waktu Jakarta, dengan tweet yang memuat kode link “1hMtvme“, yang seperti memuat MTV. Jadi seperti terkait soal yang aku sebut di “Dalian Dan Dua Pembalap Legendaris Marlboro F1“, mengenai saat menjelang kecelakaan yang menewaskan Ayrton Senna pada 1 Mei 1994, sudah terjadi dua kecelakaan berat pada pembalap lain, yaitu kecelakaan Rubens Barrichello pada latihan hari Jumat 29 April 1994 namun tidak sampai tewas, dan kecelakaan Roland Ratzenberger pembalap asal Austria yang tewas pada Sabtu 30 April 1994 dalam sesi kualifikasi untuk menentukan posisi start. Sponsor besar tim Simtek pembalap Roland Ratzenberger antara lain adalah MTV. Jadi sejak tahun 1994 aku seperti sudah diberi isyarat dari langit melalui sponsor MTV itu, bahwa kelak pada tahun 2001 aku akan mengenal kamu yang bekerja di TV, dan itu adalah untuk kamu menjadi Ema untuk aku seperti tanteku tante Ema yang tetap hidup setelah sang suami wafat. Pada waktu aku ketemu muka dengan pak Bambang Rachmadi tahun 1983 itu, aku juga tidak tahu bahwa beberapa tahun kemudian pada tahun 2001 aku akan berkenalan dengan kamu Rahma Sarita.
 
 
Waktu aku berkunjung ke studio radio Ramako pada tahun 1983 itu, aku juga sempat ketemu temanku di SMA 3 yaitu Cut Rifa Meutia, yang sekarang jadi dekan fakultas Psikologi UI. Aku tidak tahu apakah dia memang kerja di radio Ramako itu atau sedang sekedar berkunjung saja seperti aku, sebab saat dia muncul aku sedang sibuk bantu penyiar radio menangani undian berhadiah untuk pendengar, dan setelah bertegur senyum sama aku, temanku itu langsung pergi. Jadi pada tahun 1983 itu aku seperti sudah diberi isyarat dari langit akan terjadi Tsunami Aceh tahun 2004. Sebab temanku Cut Rifa Meutia itu asal Aceh, lalu saat aku akan pulang dari studio radio Ramako ketemu pak Bambang Rachmadi, yang nama belakang dia seperti memuat nama kamu Rahma Sarita yang ketika terjadi Tsunami Aceh 2004 sedang kerja di Metro TV milik pak Surya Paloh yang juga asal Aceh. Pada tahun 1983 itu pula aku kerja sales di PT Tunas Tasik yang berkantor di deret belakang perkantoran dekat studio radio Ramako, dan kata Tasik berarti air yang menggenang sehingga nama Tunas Tasik seperti berarti air yang kecil lalu tumbuh besar, seperti Tsunami.
 
Beberapa kejadian bersejarah yang positif maupun negatif yang seperti terkait dengan aku sejak aku pindah dari jalan Sukabumi 13 Jakarta Pusat ke jalan Limo 17 dekat Permata Hijau itu, seperti merupakan isyarat pula untuk aku berupaya mengubah pikiran negatif menjadi pikiran positif, membangun energi negatif menjadi energi positif. Seperti disebut dalam hukum kekekalan energi Einstein, energi yang ada di dunia ini bersifat kekal, tidak pernah hilang, cuma berubah bentuk saja.  Misalkan dari energi potensial air, berubah jadi energi mekanik pada putaran turbin, lalu berubah jadi energi listrik. Tinggal bagaimana kita mensyukuri dengan sebaik mungkin, kalau kita berprasangka baik kepada yang Di Langit maka berbagai kebaikan akan kita dapatkan, dengan berpikir dan bersikap postif, sebab jika kita cenderung negatif maka energi itu akan menjadi energi negatif yang menimbulkan bencana. Oleh sebab itu pula aku pikir sangat penting untuk aku melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia kalau lukisan-lukisanku laku terjual dengan harga yang baik, sebab dengan mengunjungi tempat-tempat baru, ketemu momen-momen baru, moga-moga ada inspirasi-inspirasi penting dari apa yang aku tulis dari perjalanan itu, termasuk yang terkait surat ini maupun surat sesudah ini. Sebab kalau aku tidak juga melakukan perjalanan itu, padahal sudah muncul berbagai kejadian penting tingkat internasional yang seperti terkait dengan aku, maka yang muncul cuma energi negatif antara lain berupa dugaan-dugaan negatif terhadap aku. Dan itu wajar, karena dimana-mana di dunia ini secara alamiah akan selalu ada pihak-pihak terutama pihak yang berwenang, yang cenderung curiga terhadap orang-orang yang dianggap memiliki sesuatu yang berbeda dari yang lain dan menganggap penting untuk mengamankan dengan berprasangka negatif. Oleh sebab itu aku yang harus tahu diri untuk segera melakukan perjalanan menggali inspirasi ke berbagai tempat d dunia, agar mengubah energi negatif dugaan yang bukan-bukan itu menjadi energi positif berupa inspirasi-inspirasi yang bermanfaat dari catatan perjalananku itu.
 

 
 

Jakarta,  23 Agustus 2015.
wassalam,

 
 

a.m. firmansyah
sms +62812 183 1538

 
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: