AB655. Antar Lukisan Ke Pak Santoso Di Majalaya Bandung

 
 

Rahma Sarita: assalamualaikum wr wb

HAL:  Antar Lukisan Ke Pak Santoso Di Majalaya Bandung

 

—-
—-
Beberapa lukisanku aku muat di Tokobagus.com sejak sekitar awal Maret 2013. Dan pada 27 Maret 2013 ada yang menelpon ingin beli lukisan elang yang aku muat itu, serta minta lukisan itu diantar ke Majalaya. Tapi aku lupa tanya lukisan elang yang mana, sebab ada dua lukisan mengenai elang yang aku muat. Jadi aku bawa saja yang ada bunga matahari. Untung kemudian gak jadi ketemu sama dia karena dia sedang ke Kalimantan saat aku datang ke Bandung.
—-
“Elang Berjemur”, ukuran 51 x 71 cm, cat minyak pada kanvas, produksi tahun 2001. “Elang Monas”, ukuran 60 x 98 cm, cat minyak pada kanvas, produksi tahun 1994
—-
—-
Rahma Sarita pada Ada Apa Berita di Jak-TV 27 Maret 2013 beberapa jam setelah seseorang menelpon aku dan ingin beli lukisan elang. Rahma pakai blus kotak-kotak dengan bagian depan cukup rendah. Blus kotak-kotak itu dapat berarti “kau tak”, seperti isyarat agar “kau tak ke gunung”, agar aku tidak mampir ke Puncak kalau sudah dapat uang jual lukisan di Majalaya Bandung.
—-
—-
—-
—-
Eyang Subur dan Adi Bing Slamet. foto: tribunnews.com
Suara orang yang menelpon ingin beli lukisanku itu dan minta agar lukisan diantar ke Majalaya Bandung, seperti suara Eyang Subur yang beberapa minggu belakangan ini sedang ada kasus yang ramai di media dengan Adi Bing Slamet. Pada 25 Maret 2013 ketika ramai isyu soal akan ada demo besar hari itu untuk melakukan kudeta kepada presiden SBY, Adi Bing Slamet di suatu acara infotainment mengucapkan kata “keluar, ayo keluar” beberapa kali.
 
—-
—-
Tanggal 28 Maret 2013 berangkat dari rumah jam 4 lewat 20 pagi, sampai di Kampung Rambutan jam setengah tujuh, bus jurusan Bandung lewat tol Cipularang masih kosong.
Sampai di pintu keluar terminal, bus menunggu lagi beberapa saat untuk mengisi penumpang.
Di depan deretan kios penjual buah di seberang terminal, bus menunggu lagi beberapa saat untuk mendapat penumpang. Kemudian mulai jalan, tapi cuma untuk berputar di jembatan layang di atas tol untuk setelah itu menunggu penumpang lagi.
Jam setengah sembilan pagi bus berangkat.
Setelah isi bensin di tempat istirahat pada KM89, bus berhenti dan penumpang dipindahkan ke bus lain yang lewat disitu.
Setelah pindah bus beberapa penumpang terpaksa berdiri sampai Bandung.
Dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta dengan bus lain, sekitar menjelang Bekasi bus berhenti untuk ganti ban.
—-
Saat bicara di telpon waktu aku sudah di terminal Leuwipanjang Bandung, semula disepakati aku datang lagi Sabtu 30 Maret 2013. Tapi ketika aku telpon beberapa kali pada hari Jumat dan Sabtu pagi sebelum berangkat, tidak juga berhasil, sehingga aku batalkan rencana datang lagi. Selasa 2 April 2013 aku SMS menyebutkan keseriusanku untuk jual lukisan agar tidak disangka mau jadi politikus pada tahun 2014, dan ternyata langsung aku ditelpon namun tidak jadi beli lukisan dan akan beritahu rekan lain yang mungkin mau beli.
—-
—-
—-

 

Tanggal 27 Maret 2013 pagi sekitar jam 10 ada yang menelpon aku, orang laki tapi seperti suara orang sudah tua, dia bilang berminat sama lukisanku yang soal burung Elang. Dia tanya apa bisa diantar ke tempat dia di Majalaya, dan apa ada ongkos kirim. Aku bilang bisa dan nggak ada ongkos kirim. Setelah dia tawar 35 lalu aku bilang 38, dia setuju.

Sangking senang karena sudah lama belum ada yang beli lukisanku, aku lupa tanya soal siapa nama dia. Aku cuma tanya alamat lengkap, tapi dia bilang kalau sudah di terminal Bandung saja telepon lagi, dia akan kasih tahu. Dia juga bilang seharian ada di tempat, tapi waktu aku tanya jam berapa yang enak, dia bilang jam sembilan pagi.

Sore hari aku SMS tanya nama dia, tapi nggak dibalas. Lalu malam hari aku ingat, angka pada harga 38 itu bisa diartikan sebagai orang-orang terkait dengan 3 akan di LAPAN, diangkat dari dunia ini seperti singkatan LAPAN yaitu Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional. Jadi pada sekitar jam 10 malam aku SMS lagi menyebutkan kalau sudah ketemu dia, aku akan kasih diskon.

Dan pada 27 Maret 2013 malam itu, kamu muncul di segmen yang jam sembilan pakai blus kotak-kotak dan bagian depan cukup rendah. Tapi cuma di awal acara saja kamu biarkan bagian dada itu agak terbuka, setelah itu kamu tutupi dengan rambut kamu. Blus kotak-kotak itu seperti berarti “kau tak”, sehingga seperti kasih isyarat untuk aku agar “kau tak ke gunung”. Memang aku sempat berpikir kalau lukisan sudah jadi dibeli oleh yang menelpon aku dari Majalaya itu, dalam perjalanan pulang aku akan mampir di Puncak  sambil motret pemandangan dan cari inspirasi untuk lukisan. Tapi mungkin kamu khawatir aku terus menginap di Puncak, dalam keadaan baru jual lukisan sehingga kantong tebal, sendirian saja, jadi mungkin kamu khawatir aku akan berbuat yang bukan-bukan.

Keesokan hari tanggal 28 Maret 2013 aku berangkat dari rumah jam 4.20 pagi, mampir di mesjid Raya Cinere yang ada di belakang Polsek Cinere untuk sholat Subuh dan menitip sepeda. Terus berlanjut naik angkot dan bis ke terminal Kampung Rambutan. Sampai di terminal Kampung Rambutan jam setengah tujuh pagi, aku pikir cukup waktu untuk sampai di Majalaya sebelum jam sembilan.

Namun dugaanku keliru karena bus menunggu cukup lama, jam setengah delapan mulai meninggalkan terminal tapi terus menunggu penumpang lagi di pintu keluar. Lalu setelah jalan beberapa saat kemudian berhenti lagi di depan tukang jual buah di seberang terminal.

Dan saat aku pikir sudah mulai jalan lagi, ternyata malah cuma berputar lewat jembatan layang di atas jalan tol untuk kemudian kembali lagi, cari penumpang lagi dengan menunggu di depan tukang jual buah itu lagi.

Jadi baru betulan berangkat jam setengah sembilan pagi. Aku sudah sempat SMS lagi ke orang yang mau beli lukisanku itu, tapi nggak dijawab. Aku mulai nggak enak, ini orang serius mau beli lukisan atau gimana. Atau barangkali nggak bisa baca, buta huruf, cuma bisa baca angka-angka aja jadi kalau ada SMS dia nggak balas.

Perjalanan cukup lancar, cuma di sepanjang tol sekitar Bekasi dan Kerawang jalanan cukup padat dan kadang macet. Sampai di tempat istirahat pada sekitar KM 89 tol Cipularang, bus isi bensin lalu setelah keluar ke tol lagi, bus berhenti di pinggir jalan. Aku pikir cuma nunggu orang, tapi beberapa saat kemudian kenek dan sopir mulai memberhentikan bus lain yang lewat. Beberapa bus nggak mau berhenti, dan kemudian ada bus Primajasa yang mau berhenti, penumpangpun disuruh pindah, sehingga sebagian sekitar lima belas orang terpaksa berdiri sampai terminal Leuwipanjang Bandung, termasuk aku.

Beberapa saat bus sepi saja tidak ada suara kecuali beberapa penumpang yang bicara satu sama lain, dan ketika penumpang mulai mengantuk supir memutar CD berisi lagu-lagu lama antara lain lagu “Endless Love” versi Mariah Carrie.

Sampai di terminal Leuwipanjang Bandung jam setengah duabelas siang, aku ke toilet dulu lalu menelpon pembeli misterius itu sambil berdiri di depan deretan toko penjual makanan oleh-oleh khas Bandung di dekat pintu masuk terminal. Tapi dia malah seperti orang bingung, dan bilang nggak jadi, lalu telpon ditutup. Aku telpon lagi karena kurang jelas, dan dia malah bilang agar diantar ke jalan yang berbeda dari nama jalan yang dia sebut sehari sebelum itu. Aku tanya sebelah mana, dia bilang belok kiri dari terminal, dan waktu aku tanya soal pembayaran bagaimana, dia bilang ada pembantu disitu. Dia juga bilang jangan nelpon dulu karena dia lagi ada di proyek di Kalimantan. Padahal sehari sebelum itu dia bilang seharian ada di tempat di Majalaya.

Lalu dia bilang lagi kalau mau ketemu sore, dia ada, sehingga aku pikir mungkin ada keperluan mendadak sehingga dia harus ke proyek dia di Kalimantan. Tapi aku pikir kalau ketemu sore, berarti aku akan pulang malam. Sehingga aku bilang Sabtu aja tanggal 30, dan dia setuju. Dan aku langsung naik bus lagi pulang ke Jakarta.

Bus saat pulang itu bus Primajasa lagi, dengan kursi dua deret di kiri dan dua deret di kanan. Aku duduk di dekat jendela agar bisa sambil motret pemandangan di luar, pada kursi yang deretan kiri, sekitar bagian tengah tidak terlalu ke depan tidak terlalu ke belakang.

Saat masih di dalam kota Bandung, ketika lewat jalan macet menjelang perempatan ke arah tol, ada beberapa orang naik. Antara lain satu cewe dan dua atau tiga cowo, yang cowo-cowo duduk di kursi kosong agak ke belakang sebelah kanan, dan yang cewe duduk di sampingku yang emang kursi kosong. Wajah dia mirip selebriti Jenny Cortez, pemain sinetron, tapi berrambut pendek. Tidak ada komunikasi dengan dia selama perjalanan, sebab aku pikir siapa tahu diantara cowo yang naik bareng dia itu adalah suami dia. Walaupun kemudian aku jadi berpikir juga, kalau emang suami dia, kenapa dia malah duduk di samping aku.

Komunikasi yang muncul cuma saat dia mau makan bakwan dan menawarkan ke aku, tapi aku cuma senyum saja. Sampai menjelang sekitar Purwakarta, jalan tol mulai macet, menyebabkan bus berbelok keluar lewat gerbang tol Ciganea dan lewat kota Purwakarta. Setelah itu masuk ke tol lagi dari gerbang tol Sadang dan jalan tol sudah tidak macet lagi.

Saat sampai di sekitar menjelang Bekasi, ban belakang kiri yang kurang lebih ada di bawah di belakang tempat aku duduk, diganti. Entah karena kempes atau apa, aku nggak turun dari bus untuk melihat meskipun beberapa penumpang laki-laki ada juga yang turun untuk melihat penggantian ban itu oleh kenek.

Menjelang jembatan layang Cawang jalan tol macet lagi, lalu lintas merambat sampai lewat jembatan Semanggi, cuma kadang lancar. Dan terjadi lagi sesuatu yang aneh sekitar menjelang depan gedung DPR. Dalam keadaan lalu lintas padat merayap seperti itu, ada momen ketika lalu lintas mulai lumayan lancar namun bus tertahan oleh sebuah mobil, entah Toyota Yaris atau Suzuki Swift, yang pada posisi tanggung sedikit mengarah kanan di belakang mobil pick-up Jasamarga yang sedang berjalan lambat, sehingga bus terhalang.

Kenek bus mengetuk atap mobil itu minta diberi jalan, tapi dia malah membelokkan mobil menjadi tepat di depan bus. Lalu sepanjang beberapa ratus meter terjadi adegan bus terus membunyikan klakson dan mobil itu terus mempermainkan supir bus, kalau bus mau ke kiri dia menghalangi dengan ikut ke kiri, kalau bus mau ke kanan dia menghalangi dengan ikut belok kanan di depan bus. Para penumpang terutama yang perempuan mulai berteriak-teriak khawatir, apalagi pada saat-saat tertentu mobil itu sengaja berhenti mendadak sehingga bus juga berhenti mendadak dan para penumpang terguncang-guncang.

Sampai pada suatu saat bus berhasil juga mendahului dan karena supir sudah kesal betul, langsung dia berhentikan bus dalam posisi miring untuk menghalangi mobil itu. Lalu supir dan kenek turun, dan akupun bilang agar para penumpang ikut turun, bukan apa-apa sebab kalau yang di mobil itu orang-orang sangar ‘kan kasihan sopir sama kenek bisa digebukin. Tapi ternyata di dalam mobil itu cuma satu orang, pegawai kantoran berkemeja putih. Setelah dimarahi oleh supir dan penumpang, dan dia sempat mau melawan tapi ditahan oleh penumpang, lalu dia diam saja dan para penumpang serta supir dan kenek kembali masuk bus.

Menjelang Slipi Jaya Plaza bus keluar dari tol dan aku turun untuk sholat Ashar di Slipi Jaya Plaza, jam sudah menunjukkan setengah lima sore.

Selesai sholat aku ke halte busway tapi sempat salah turun, karena disitu jalur busway berada pada jalur lambat sedangkan aku biasa naik di halte dimana busway berada di jalur cepat. Untung tiket masih bisa dipakai, dikasih tulisan dan stempel oleh yang jual tiket, mungkin emang sering kejadian di halte itu orang salah turun dari jembatan penyeberangan.

Sabtu pagi aku janji akan datang lagi sesuai pembicaraan di telpon saat di terminal Leuwipanjang Bandung, jadi Jumat malam aku telpon, tapi gak bisa, telepon tidak aktif atau diluar jangkauan. Sabtu 30 Maret 2013 pagi sebelum berangkat aku telepon lagi, tetap juga nggak bisa. Aku SMS, dan tidak ada jawaban, sehingga aku batalkan untuk pergi lagi ke Majalaya pada Sabtu itu.

Selasa siang 2 April 2013 sekitar jam satu aku SMS lagi, aku sebutkan penting untuk aku jual lukisan agar mengukuhkan posisiku sebagai pelukis, sehingga tidak disangka mau masuk politik pada tahun 2014. Dan ternyata langsung dia telpon aku, saat itu aku lagi di kamar mandi setelah kirim SMS. Berarti dia bisa baca, nggak buta huruf,…….. atau mungkin ada orang yang bacain SMS itu untuk dia.

Tapi dia bilang nggak jadi beli, dan akan hubungi teman-teman dia kalau barangkali ada yang mau. Aku sempatkan tanya nama dia siapa, dia bilang haji Santoso. Pada sekitar hari-hari itu sedang ada kasus terkait nama Santoso, yaitu pembunuhan serka Santoso pada 19 Maret 2013 oleh sekelompok orang di Hugo Cafe. Kemudian diikuti dengan penyerbuan oleh menurut media 17 orang, yang kemudian angka resmi adalah 11 orang, bertopeng dan bersenjata api ke LP Cebongan di Sleman Yogyakarta pada 23 Maret 2013, yang menyebabkan empat orang pembunuh serka Santoso itu tewas ditembak mati oleh berondongan peluru para penyerbu itu. Setelah dilakukan penyelidikan selama beberapa hari, kemudian pada 4 April 2013 diumumkan oleh Brigjen Unggul Yudhoyono dari TNI-AD bahwa penyerang di LP Cebongan itu adalah prajurit Kopassus dan mereka sudah mengakui secara kesatria tindakan mereka itu, sebagai pembalasan atas pembunuhan serka Santoso di Hugo Cafe. Danjen Kopassus Mayjen Agus Sutomo juga mengaku akan bertanggung jawab terhadap tindakan para anak buahnya itu.

Lalu apakah pak haji Santoso yang menelpon aku dan minta diantar lukisan ke Majalaya Bandung itu ada kaitan dengan kasus serka Santoso yang terbunuh sebelum telpon itu muncul, aku tidak tahu. Bagaimana aku bisa tahu kalau tidak ada yang menjelaskan sama aku, sebab kalau aku cuma mengkait-kaitkan, aku bisa dituduh suka dipas-pasin, suka mengaku-ngaku ada kaitan dengan kejadian dan tokoh penting. Apalagi ini termasuk kasus langka dan orang cenderung tidak ingin ada kaitan dengan kasus seperti ini, terutama orang biasa seperti aku ini.

Ada soal lain yang menarik mengenai pak haji Santoso yang mau beli lukisanku tapi nggak jadi itu, yaitu suara beliau seperti klop dengan wajah Eyang Subur yang beberapa minggu belakangan ini sedang ada kasus yang ramai di TV dengan Adi Bing Slamet. Diantara ucapan Adi Bing Slamet yang muncul di TV adalah menyebutkan kata “keluar, ayo keluar……” beberapa kali pada pagi hari saat ada isu demo besar kudeta kepada pak SBY pada 25 Maret 2013 yang lalu.

Mungkin semua ini isyarat dari langit agar aku lebih memperkukuh posisi sebagai pelukis agar tidak disangka akan masuk politik pada 2014. Sebab kalau pelukis ‘kan jarang yang punya pengikut ataupun penggemar sampai ribuan orang atau lebih. Beda dengan penyanyi atau bintang film yang kalau ada di panggung saja bisa dihadiri oleh puluhan atau bisa ratusan ribu penggemar, sehingga lebih wajar kalau mudah masuk ke politik.

 
 

Jakarta,  12 April 2013.
wassalam,

 
 

a.m. firmansyah
sms +62812 183 1538

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: