AB826. Alex Komang Kanker Dan Firman Terseret 30 Km, Pesan Agar Aku Melepas 13

 
 

Rahma Sarita: assalamualaikum wr wb

HAL: Alex Komang Kanker Dan Firman Terseret 30 Km,
Pesan Agar Aku Melepas 13

 
 

Alex Komang Meninggal Dunia

Sakaratul Maut Menjemput Alex Komang
Saat Ayat-ayat Suci Al Qur’an Mengalun

“Kami bacakan ayat suci bisa tenang. Kami bacakan ayat Quran, yasin juga. Saat di tengah bacaan itu, dia meninggal dunia,” aku Rahman, kepada Kompas.com, Jumat (13/2/2015) malam. Setelah tak ada reaksi apapun, pada pukul 20.00 WIB, dia bersama keluarga meminta suster setempat untuk mengecek kondisi almarhum. “Pas diperiksa, suster bilang, Pak Saifin sudah meninggal dunia,” tiru Rohman menirukan ucapan suster.     Tribunnews  –  Sabtu, 14 Februari 2015    02:54 WIB
Alex Komang meninggal dunia pada Jumat (13/2/2015) di usianya yang ke-53. Ia meninggal karena kanker hati.    detikhot – Sabtu, 14/02/2015    09:24 WIB
Twitter Senk Lotta pada tanggal 15 Februari 2015 memuat retweet berisi ucapan selamat jalan kepada Alex Komang dari Ayu Shita, beserta foto kenangan di Path.
Alex Komang di film “Doea Tanda Mata” (1984) menjadi inspirasi Budiman Sudjatmiko menjadi aktivis politik.    antaranews – ( Foto Perpustakaan Nasional )
Doea Tanda Mata produksi tahun 1984, disutradarai Teguh Karya. Film ini layak disebut klasik. Sebagai sebuah period drama, film ini layaknya The Godfather milik Francis Ford Coppola Gunadi yang berhasil mengangkat Amerika era 1940-an. Teguh menuturkan kisahnya mirip pembagian babak yang menyerupai naik-turunnya layar di panggung teater. Semua itu didukung gambar-gambar dinamik sorotan George Kamarullah. Kisahnya tentang Gunadi, pemuda Klaten yang baru kawin setahun terbius oleh gerakan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda di tahun 1930-an. Ia tinggalkan istrinya yang menjadi guru, dan bergabung dengan kelompok pergerakan bawah tanah dengan mencetak selebaran-selebaran gelap. Di percetakan yang merangkap panggung hiburan, ia berkenalan dengan Ining (Jenny Rachman). Ining tampak jatuh hati pada Gunadi.     liputan6.com
Judul: Doea Tanda Mata
Pemeran Utama: Jenny Rachman, Alex Komang, Sylvia Widiantono
Sutradara: Teguh Karya
Produser: PT Citra Jaya Film (Budi Prakoso)
Keterangan publikasi: 1984
Deskripsi fisik: Warna ; 118 menit
Subjek: Film – Drama
Sumber: Katalog Film Indonesia 1926 – 2007/ Oleh JB. Kristanto (Jakarta : Nalar, 2007)

pnri.go.id

Judul: Pacar Ketinggalan Kereta
Pemeran Utama: Tuti Indra Malaon, Rachmat Hidayat, Niniek L Karim
Sutradara: Teguh Karya
Produser: NV Perfini
Keterangan publikasi: 1988
Deskripsi fisik: Warna ; 139 mnt
Subjek: Film – Drama
Sumber: Katalog Film Indonesia 1926 – 2007/ Oleh JB. Kristanto (Jakarta : Nalar, 2007)

pnri.go.id

Alex Komang di rumahnya di kawasan Pejaten, Jakarta, 16 Januari 2004.    Dok TEMPO / Mohamad Irfanto
Alex Komang saat berperan sebagai Hasim, ayahanda Iwan Setyawan, di film “9 Summers 10 Autumns”.     antaranews / twitter  –  Jumat, 13 Februari 2015    22:22 WIB
Surat Kecil Untuk Tuhan merupakan film terlaris 2011 dengan jumlah penonton lebih dari 748 ribu. Film ini sukses mengharu biru penontonnya. Ceritanya memang sedih. Tentang kisah nyata perjuangan gadis berusia 13 tahun, Gita (diperankan oleh Dinda Hauw) melawan kanker jaringan lunak (Rhabdomyosarcoma). Selain akting Dinda yang total hingga rela mencukur rambutnya, film yang diangkat dari novel Agnes Danovar ini juga memperlihatkan akting memukau Alex sebagai ayah Gita. Di film itu Alex Komang memperlihatkan akting meyakinkan seorang ayah yang akan melakukan upaya apa saja agar putrinya sembuh. Flm ini menghantarkannya menjadi unggulan Aktor Terbaik FFI 2011.     liputan6.com
Aktor kawakan nasional Alex Komang meninggal dunia, Jumat (13/2). Berita duka ini berawal dari dunia twitter. Alex disebut meninggal di Jepara.     Jumat, 13 Februari 2015,    21:24:00
 
 
 
 
google maps
 
Mahasiswa Tewas Terseret Mobil
Sejauh 30 Kilometer di Cimahi
   
Kompas  – Sabtu, 28 Februari 2015 | 13:47 WIB    
Firman Nurhidayat (21) tewas mengenaskan setelah terseret mobil sejauh 30 kilometer, Jumat (27/2/2015), dia terseret dari mulai Jalan Raya Kebon Kopi sampai ke Kilometer 116+600 B, Tol Cipularang, menjelang gerbang Tol Cikamuning. Kepala Polres Cimahi AKBP Erwin Kurniawan mengatakan, peristiwa itu bermula ketika Firman yang saat itu mengendarai sepeda motor Yamaha Vega R bernomor polisi D 6024 SJ menyalip kendaraan Honda City bernopol D 1347 UI yang dikemudikan Yana (43), warga Maleber, Kota Bandung. Saat motor yang dikemudikan korban (Firman) mendahului mobil Honda City, ada sepeda motor lain dari arah berlawanan, sempat terjadi senggol-senggolan sehingga korban jatuh ke kiri dan tertabrak mobil Honda City. Korban masuk ke kolong mobil Honda City itu. Namun, menurut Erwin, pengendara mobil Honda City itu terus menjalankan kendaraannya dan diketahui sempat menambah kecepatannya. Mobil itu lalu mengarah ke kawasan Cijerah dan masuk ke Tol Pasir Koja, dan berhasil diberhentikan di Tol Cipularang Km 116+600 B sebelum Tol Cikamuning.
jabar.metrotvnews.com
merdeka.com
Honda City D 1347 UI yang dikemudikan Yana dan teman wanitanya menyeret korban senggolan motor. Korban yang diketahui bernama Firman Hidayat (21) terseret hingga 30 km.     merdeka.com  –  Sabtu, 28 Februari 2015 14:03
FIRMAN Nurhidayat, 21, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kota Bandung, tewas mengenaskan setelah tubuhnya terseret mobil sejauh 30 km pada Jumat (27/2) malam. Firman terseret mobil Honda City nopol D 1347 UI yang dikemudikan Yana, 43, dari Jalan Raya Kebon Kopi Cimahi sampai ke Km 116.600 Tol Cipularang atau sekitar gerbang Tol Cikamuning, Bandung Barat.     mediaindonesia.com – Minggu, 01 Maret 2015
INILAH.COM
detikNews
Kurang lebih seperti ini posisi Firman Nurhidayat saat terseret di kolong mobil Honda City sejauh 30 km pada tanggal 27 Februari 2015 malam, dengan kecepatan mobil 100 km lebih.
news.okezone.com
Gerbang Tol Cikamuning pada pagi hari, dari kamera pada situs m.jasamargalive.com
merdeka.com
merdeka.com
merdeka.com
Sebagian besar surat ini sudah selesai aku tuliskan pada 2 Maret 2015 malam, dan keesokan hari pada 3 Maret 2015 jam 7.54 AM pagi muncul tweet Bill Gates dengan kode link “1DzkOz5”. Huruf “D” seperti terkait plat nomer Honda City D 1347 UI yang menyeret Firman Nurhidayat sejauh 30 km hingga tewas. Sedangkan huruf “z” seperti dari suatu kesenangan duniawi yang dimulai dengan huruf “z” yang harus aku tinggalkan di dunia fana ini, agar aku dapat “kO”, dapat fokus ke O, aku menjadi kosong dari dunia ini. Dan “5”, angka lima itu seperti terkait jalan Limo dekat Permata Hijau Kebayoran Lama, dimana dulu tahun 1982 setelah aku lahir dan dibesarkan selama 24 tahun di jalan Sukabumi 13 Jakarta Pusat, aku pindah ke jalan Limo. Jadi kali ini aku juga harus pindah, dari dunia fana ini ke alam lain untuk kebaikan umat manusia.

 
 

Waktu muncul berita aktor Alex Komang meninggal dunia karena sakit kanker pada tanggal 13 Februari 2015, aku semula sudah akan memuat di salah satu surat sebelum ini. Tapi karena masing-masing surat itu sudah cukup padat, baik dalam foto maupun materi, jadi aku tunda dulu agar tidak menjadi beban bagi yang membaca. Sebab beberapa kali aku dengar dari para tokoh di TV, kalau ada persoalan yang memuat materi yang terlalu banyak, memuat info yang terlalu banyak, akan menyebabkan tidak mudah untuk diserap oleh kepala.

Berita soal Alex Komang meninggal dunia dalam usia 53 tahun karena sakit kanker pada tanggal 13 Februari 2015 jam 20.00 malam, aku anggap penting untuk aku muat karena seperti terkait dengan soal aku juga. Sebab nama belakang Alex Komang seperti memuat “Mang”, bagian dari nama kecilku dimana aku sering dipanggil dengan nama kecil Imang atau Memang. Menjadi lebih penting karena nama Alex Komang itu seperti berarti “All X KO Mang”, dimana seperti sering aku sebutkan huruf X itu suka digunakan untuk mengganti Christ, misalkan pada ucapan Merry Christmas suka disebut Merry X’Mas. Jadi nama Alex Komang seperti berarti “All X KO Mang”, terkait soal kalau orang-orang yang terkait X diangkat dari dunia ini, dapat terjadi perebutan senjata-senjata pemusnah masal yang berujung kiamat.

Kemunculan aktor Alex Komang di dunia film puluhan tahun yang lalu memang seperti ada yang tidak biasa untuk aku. Saat itu aku baru tahu soal Alex Komang setelah dia mendapat piala untuk Aktor Terbaik di Festival Film Indonesia tahun 1985 lewat film Doea Tanda Mata. Aku anggap tidak biasa karena sebelum itu aku belum pernah tahu soal Alex Komang, dan wajah dia juga memang seperti tidak biasa di mataku. Walaupun kalau untuk orang yang gemar teater, nama Alex Komang tidak asing lagi, karena sejak 1980 sudah tergabung dengan kelompok Teater Populer pimpinan Teguh Karya. Dan saat mendapat gelar Aktor Terbaik tahun 1985 juga dalam film yang disutradarai oleh Teguh Karya yaitu Doea Tanda Mata. Namun untuk aku yang memang sangat jarang nonton pentas teater, nama Alex Komang memang saat itu sangat baru muncul di kupingku.

Dan ternyata aktor terkenal Slamet Rahadjo juga menganggap Alex Komang itu orang aneh, seperti dapat dilihat pada artikel “Slamet Rahardjo: Kisah Alex Komang Berguru ke Teguh Karya” yang dimuat oleh Tempo.co, dimana Slamet Rahardjo menyebut memiliki kesan tersendiri akan sosok Alex Komang yang dikenalnya. Menurut aktor kawakan Slamet Rahadjo,  Alex Komang adalah orang yang aneh karena kebiasaannya sehari-hari. “Ketika orang tidur dia bangun dan orang bangun dia tidur,” kata dia. Tapi aku tidak tahu apakah keanehan itu karena dia muncul di bumi membawa tugas penting terkait dengan aku dan nasib umat manusia.

Alex Komang yang bernama asli Saifin Nuha lahir di Jepara, Jawa Tengah 17 September 1961, putera dari Sohib Al-Halim seorang kyai penghafal Al-Qur’an yang cukup disegani. Pada media lain nama sang ayah disebut Sohibul Munir. Dan pada saat menjelang ajal di rumah sakit, menurut berita di media Alex Komang menghembuskan nafas terakhir saat dibacakan ayat-ayat Qur’an. Alex Komang dikenal dalam perannya sebagai Togar dalam film “Secangkir Kopi Pahit” pada tahun 1985. Dia masih aktif di dalam dunia pentas seni peran sampai saat-saat terakhir. Beberapa filmnya yang terkenal di Indonesia adalah Doea Tanda Mata (1985), Secangkir Kopi Pahit (1985), Ibunda (1986), Mementos (1986), Pacar Ketinggalan Kereta (1989), Ca Bau Kan (2002), Puteri Gunung Ledang (2004), Laskar Pelangi (2008), Darah Garuda A(2010), Surat Kecil Untuk Tuhan (2010), 9 summers 10 autumns (2013), Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014), dan Gunung Mas Almayer (2014).

Tanggal saat Alex Komang wafat, tanggal 13 Februari 2015 jam 20.00 malam, seperti memuat isyarat untuk aku terkait soal menanggalkan kesenangan kepada dunia fana. Sebab angka tanggal 13 itu seperti nomer rumah tempat tinggalku dulu di jalan Sukabumi 13 Jakarta Pusat dimana aku dilahirkan ke dunia ini. Nama jalan Sukabumi itu seperti dari kata suka dan bumi, sehingga seperti berarti suka kepada dunia. Dan seperti diatur dari langit, setelah aku menunda pemuatan soal Alex Komang itu, lalu muncul bahan lain yaitu soal Firman Nurhidayat meninggal dunia dengan tragis akibat tabrakan sepeda motor lalu terseret mobil Honda City dengan plat nomer D 1347 UI, terseret sejauh 30 km antara lain lewat di jalan Tol Cipularang Bandung ke arah Jakarta.

Kejadian bermula di jalan Kebon Kopi, Cimahi, Bandung, pada tanggal 27 Februari 2015 malam. Sepeda motor yang dikendarai oleh Firman Nurhidayat, mahasiswa usia 21 tahun kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia / UPI Bandung jurusan Teknis Mesin semester IV, bersenggolan dengan sepeda motor lain yang datang dari arah berlawanan, menyebabkan Firman Nurhidayat terjatuh. Dan mobil Honda City yang tepat di belakang dia tidak sempat mengerem, sehingga menubruk Firman dan dia masuk ke kolong mobil.

Pengemudi Honda City khawatir dihakimi massa, langsung tancap gas melarikan diri, sempat menyenggol mobil, truk dan sepeda motor lain sepanjang perjalanan, lalu menerobos gerbang Tol Pasir Koja dan masuk ke jalan Tol tanpa bayar, memacu mobil dengan kecepatan 100 km lebih ke arah Jakarta. Dan ….. ini yang tragis, si korban Firman tersangkut di bawah mobil dekat roda belakang. Empat sepeda motor sempat mengejar tapi tidak terkejar, dan baru pada km 116 dekat lokasi SD Cikamuning, pada jalan Tol Cipularang arah Jakarta ada sebuah bus yang berhasil memepet karena melihat ada yang aneh di bawah mobil. Honda City itupun berhenti, dan si pengemudi seorang pria bernama Yana usia 43 tahun, baru tahu bahwa setelah sekitar 30 km, sebagian besar dengan kecepatan 100 km lebih, ternyata ada tubuh manusia di kolong mobil dekat roda belakang. Lebih tragis lagi, si korban terseret di kolong mobil dalam keadaan tertelungkup, bagian kepala ada di bawah kolong bagasi mobil sedangkan badan dan kaki di belakang mobil, sehingga menurut yang sudah melihat termasuk pak Supardi ayah korban, wajah Firman Nurhidayat rusak berat, hampir tidak dapat dikenali lagi, demikian juga dengan badan dia karena tergerus aspal sepanjang 30 km dengan kecepatan 100 km lebih.

Plat nomer mobil Honda City itu adalah D 1347 UI. Jadi seperti diatur dari langit, aku menunda pemuatan soal Alex Komang yang meninggal pada tanggal 13 Februari 2015 malam, agar kemudian dimuat bersama kecelakaan tragis tanggal 27 Februari 2015 malam yang menimpa Firman Nurhidayat berupa terseret di bawah mobil Honda City sepanjang 30 km dengan kecepatan sekitar 100 km lebih, dan plat nomer mobil Honda City itu D 1347 UI juga memuat angka 13 yang seperti terkait Alex Komang wafat tanggal 13 Februari 2015.

Kecelakaan tragis tanggal 27 Februari 2015 malam yang menyebabkan Firman Nurhidayat tewas terseret sejauh 30 km di kolong mobil itu, jadi seperti makin terkait dengan aku sebab selain karena nama korban adalah Firman seperti namaku, juga tanggal kejadian 27 Februari 2015 itu seperti terkait kakakku Faisal yang merupakan anak ke-2 di keluargaku yang sekolah di SMA 7 Jakarta. Dan nama kakakku Faisal itu memuat “sal” seperti pada kata Salib, jadi kecelakaan tragis tanggal 27 itu seperti memuat pesan agar aku jangan menyebabkan orang-orang yang terkait dengan Salib ditanggalkan dari dunia fana ini, sebab dapat terjadi perebutan senjata-senjata pemusnah masal yang berujung ke kiamat.

Dari kejadian aktor Alex Komang wafat, pesan yang muncul seperti terkait kata tanggal yang selain mengenai kalender juga dapat berarti lepas, misalkan pada kalimat “anak itu menanggalkan baju sebelum berenang di sungai”, ataupun pada kalimat “gigi anak itu tanggal” yang berarti gigi anak itu lepas. Jadi aku harus melepas 13, terkait nomer rumah tempat tinggalku dulu di jalan Sukabumi 13 Jakarta Pusat, dimana nama Sukabumi seperti dari kata suka dan bumi yang berarti senang pada dunia fana. Aku harus melepas kesenanganku pada dunia fana ini, agar jangan terjadi “All X KO Mang”. Seperti sering aku sebutkan, huruf X suka digunakan untuk mengganti Christ, misalkan pada ucapan Merry Christmas suka disebut Merry X’Mas, dan kalau orang-orang yang terkait dengan X menjadi kosong dapat terjadi perebutan senjata-senjata pemusnah masal yang berujung ke kiamat.

Sedangkan dari kejadian mahasiswa Firman Nurhidayat tewas terseret mobil Honda City sejauh 30 km, dimana plat nomer mobil Honda City itu D 1347 UI yang berarti juga memuat angka 13 seperti nomer rumahku dulu di jalan Sukabumi 13 Jakarta Pusat, isyarat yang muncul juga seperti agar aku melepas 13. Dalam arti aku melepas kesenangan kepada dunia fana ini, agar jangan terseret oleh persoalan 30, tiga menjadi kosong, sebab kalau orang-orang yang terkait dengan tiga menjadi kosong dapat terjadi perebutan senjata-senjata pemusnah masal yang berujung ke kiamat.

Jadi dari dua kejadian itu seperti ada isyarat kuat agar aku melepas 13, terkait nomer rumah tempat tinggalku dulu di jalan Sukabumi 13 Jakarta Pusat, dimana nama Sukabumi seperti terdiri dari dua kata suka dan bumi, sehingga seperti berarti senang pada dunia fana. Ini terkait soal yang sering aku ungkapkan mengenai apa yang suka disebut para Ustadz, yaitu pada akhir jaman umat Islam dalam jumlah besar tapi terkena penyakit hubud dunia wa karohyatil maut, cinta pada kesenangan dunia namun takut mati. Sehingga seperti ada pesan untuk aku, yang dilahirkan dan pernah tinggal selama 25 tahun di jalan Sukabumi 13 Jakarta Pusat, nama jalan yang seperti terdiri dari dua kata suka dan bumi sehingga seperti berarti suka kepada dunia, agar aku menjadi sampel orang yang tidak suka pada kesenangan dunia dan juga tidak takut untuk ketemu ajal.

Jadi seperti aku sebutkan di “Bill Gates Soal C Pada Cypress Yang Berarti Canada“, sesuai perkembangan terakhir mungkin pada tahap awal aku akan ke Kanada dan tinggal disitu beberapa waktu. Siapa tahu ada dokter yang bersedia bantu aku dalam soal “physician assisted dying”, ketemu ajal dengan bantuan dokter walaupun belum tentu bisa sebab soal itu masih merupakan kontroversi juga di Kanada, ada yang pro dan kontra. Kalau setelah satu tahun belum juga ada dokter yang bersedia, maka aku akan ke rencana semula yaitu perjalanan dengan pesawat kecil di atas laut. Agar dunia ini tidak dianggap sudah akhir jaman dan hampir kiamat.

 
 

Jakarta,  7 Maret 2015.
wassalam,

 
 

a.m. firmansyah
sms +62812 183 1538

 
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: