AB838. Pesan Penting Lewat Soal Olga

 
 

Rahma Sarita: assalamualaikum wr wb

HAL: Pesan Penting Lewat Soal Olga

 
 

Yoga Syahputra atau lebih dikenal sebagai Olga Syahputra, komedian Indonesia yang sedang dalam puncak kepopuleran, meninggal dunia pada tanggal 27 Maret 2015 dalam usia 32 tahun. Seperti ada pesan penting untuk aku sebab nama Olga mengingatkan aku pada momen aku kerja di Benison Ad tahun 1981 dimana sekretaris disitu bernama Olga.
Surat untuk aku dari Benison Ad tersebut diatas ditandatangan bu Benny istri dari pak Benny pimpinan perusahaan, bu Benny juga ikut aktif di kantor Benison Ad. Aku baru ingat kemudian setelah menuliskan sebagian surat ini, yaitu bahwa nama bos di Benison Ad itu adalah pak Benny Tedjasendjaja, jadi seperti memuat kata “senja”, sore hari menjelang malam. Sehingga seperti isyarat bahwa umur umat manusia di dunia fana ini sudah memasuki usia senja, dan seperti terkait dengan soal “Mempertahankan Tri Sula Iman Dari Menjadi Kerajaan Terakhir Umat Manusia“.
Gedung Sancta Maria House jalan Ir. H. Juanda 29 Jakarta Pusat tempat Benison Ad pernah berkantor, dimana aku sempat kerja disitu tahun 1981 dan ada sekretaris bernama Olga.
Diantara klien yang ditangani oleh Benison Ad saat itu adalah TV Toshiba, yang pada iklan mereka antara lain menonjolkan soal Black Stripe, teknologi inovasi Toshiba yang membuat gambar 20% lebih jelas.
World’s First Black-stripe
Color Cathode-ray Tube

Clearer and brighter – an innovative product incorporating a world-standard color cathode-ray tube.
In 1971, a 14-inch screen using a phosphor stripe tube was brought to market, followed by a 110-degree 20-inch BKS tube. A non-BS tube also took the world by storm. This color cathode-ray tube was the origin of the global standard for present day color TV cathode-ray tubes (i.e., inline electron gun, slit mask, and stripe screen).

In the late 1950’s, joint research into trial production of color cathode-ray tubes took place among all television manufacturers, centered on the NHK Science & Technical Research Laboratories. A gradual shift to production took place in the 1960’s, with the color television market growing rapidly due to the Tokyo Olympics held in 1964. At the time, delta electric gun and round shadow masking methods based on U.S. technology were used. Beginning in the latter half of the 1960s the shift from 70-degree tubes to 90-degree tubes took place. Performance improved massively with adoption of new technologies. The core of the problem was to increase resolution and shorten the length of the tube, by widening it. These issues were resolved by developing a color tube with an inline arrangement of three electron guns, together with a newly developed slit-shadow mask combination, and stripe screen. This slit mask, which had a high hole ratio, achieved brightness levels 20% higher than previous tubes.

toshiba-mirai-kagakukan.jp/en/learn/history/ichigoki/1972cathode_ray/index.htm

Entah kenapa pada 31 Desember 2014 siang, TV-ku yang lama Panasonic 14 inchi mendadak rusak, seperti tidak ada listrik yang masuk. Menurut bagian service TV Panasonic yang aku hubungi lewat telepon, belum tentu bisa diperbaiki karena TV lama seperti itu onderdil sudah tidak ada. Aku beli tahun 2004 karena TV yang sebelum itu rusak, beli di Citos siang hari menjelang siaran langsung final Piala Eropa pada malam hari, yang kemudian dijuarai oleh tim Yunani dengan seragam biru seperti warna logo Panasonic itu. 
Setelah lihat di Internet ada TV 14 inchi di Electronic City, aku pergi ke Electronic CIty cabang Cinere pada pagi 7 Januari 2015. Tapi sampai di situ ternyata sudah habis, dan yang ada adalah TV LED 19 inchi merk Toshiba di lantai 2.
Semula harga pada display adalah 1,799 juta, setelah aku minta diskon diberi 100 ribu, namun sampai di kasir ternyata ada diskon lain sehingga aku cuma bayar 1,397 juta. TV LED Toshiba 19 inchi itu aku bawa pulang naik angkot, lalu mampir ambil sepeda yang aku titip di Indomaret dekat rumah, dan TV itu digantung pada leher saat naik sepeda dari Indomaret ke rumah.
Hampir tiga bulan setelah aku beli pada 7 Januari 2015 itu, aku baru sadar bahwa saat disetel di toko Electronic City itu, channel RCTI belum masuk di TV baruku LED 19 inchi Toshiba. Aku baru tahu saat pada tanggal 31 Maret 2015 mau nonton siaran langsung sepakbola U23 antara Indonesia vs. Korsel yang berakhir dengan skor 4-0.
Ruben Onsu dan Olga Syahputra.     kapanlagi.com / Kamis, 02 April 2015   17:15
Jenazah Olga Syahputra dibawa ke rumah duka di jalan Kresna Raya No.4, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (28/3/2015) pagi. Rumah yang menjadi tempat persemayaman sementara Olga sebelum dikebumikan, adalah rumah yang dihadiahkan Olga untuk kedua orangtuanya. Olga baru membelinya tiga tahun lalu.     sumber: tabloidnova.com / foto: google maps street view
Suasana kediaman Olga Syahputra di Jalan Kresna Raya no. 4 Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (27/3/2015). Warga mulai berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa.     Liputan6.com / Faisal R Syam – 27 Mar 2015 at 22:15 WIB
Ayah Olga Syahputra Nur Rahman telah tiba di rumah duka, di Kavling Kresna Raya, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (28/3/2015) dinihari sekitar pukul pukul 01:40 WIB. Rahman terbang dari Singapura sesaat setelah anaknya menghebuskan nafas terakhir. Ia pulang lebih dulu untuk mempersiapkan segala keperluan pemekaman Olga hari ini. Rahman yang datang dengan mengendarai taksi seorang diri langsung disambut isak tangis oleh keluarga dan kerabatnya. Rahman tampak tegar menghadapi cobaan hidup yang diterimanya.      pojoksatu.id / Sabtu, 28 Maret 2015 02:32 WIB
Antusiasme warga terlihat saat mobil ambulans yang membawa jenazah Olga Syahputra tiba di rumah duka, Jalan Kresna Raya, Duren Sawit, Jakarta, Sabtu (28/3/2015). Olga Syahputra meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pada Jumat (27/3).      okezone.com / Sabtu, 28 Maret 2015    11:18 WIB
Sabtu (28/3) siang menjadi hari di mana jenazah Olga Syahputra harus kembali ke Bumi. Setelah dirawat hampir satu tahun lamanya di Singapura, Olga menyerah dan kembali kepada Illahi pada Jumat (27/3) sore. Mobil ini yang membawa jenazah Olga saat tiba di rumah duka, kawasan Duren Sawit.    kapanlagi.com / Bayu Herdianto / aia
Warga sibuk mengambil gambar proses keberangkatan mobil jenazah Olga Syahputra dari Masjid Nurul Islam menuju TPU Malaka, Pondok Kelapa, Jakarta, 28 Maret 2015. Olga meninggal setelah menjalani perawatan selama 10 bulan di RS Mount Elizabeth Singapura.  Jenazah komedian Olga Syahputra meninggalkan rumah duka di Jalan Kresna Raya No 4, Duren Sawit, Jakarta Timur. Usai disalatkan di Masjid Nurul Islam, jenazah dibawa menuju TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur, sekitar pukul 11.50 WIB. Jenazah Olga dibawa menggunakan Toyota Alphard warna silver dengan nomor polisi B 877 LO. Keluarga Olga berada di dalam mobil ambulans tersebut.   TEMPO / Nurdiansah – Sabtu, 28 Maret 2015 | 12:08 WIB
Kerumunan pelayat di depan rumah duka. Perginya Olga Syahputra ke hadapan Tuhan meninggalkan duka yang mendalam pada kerabat dekat sesama artis, keluarga, dan jutaan penggemarnya di Indonesia. Kediaman orangtua Olga di kawasan Duren Sawit yang dijadikan rumah duka pun dipenuhi lautan pelayat.      KapanLagi.com / Budy Santoso – Sabtu, 28 Maret 2015   14:15 
Warga mengerumuni mobil jenazah Olga Syahputra di depan Masjid Nurul Islam untuk disalatkan sebelum dimakamkan di Jakarta, 28 Maret 2015. Komedian Olga Syahputra meninggal karena penyakit Meningitis dan kelenjar getah bening pada Jumat sore, 27 Maret 2015.     TEMPO / Nurdiansah – Sabtu, 28 Maret 2015 | 14:44 WIB
Jenazah Olga Syahputra tiba di Tempat Pemakaman Umum Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Sabtu (28/3/2015). Olga Syahputra meninggal di Singapura akibat penyakit radang otak (meningitis) yang dideritanya.    kompas / Sabtu, 28 Maret 2015 | 15:46 WIB
Suasana pemakaman Olga Syahputra di TPU Pondok Kelapa, Jakarta, Sabtu (28/3). Presenter dan komedian Olga Syahputra telah berbaring di tempat peristirahatan terakhirnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Malaka, Pondok Kelapa, Unit Islam, Jakarta, Sabtu siang (28/3). Prosesi pemakaman pria kelahiran Jakarta, 8 Februari 1983 itu telah berlangsung lancar dalam suasana haru. Meski diwarnai aksi saling dorong di antara warga yang menyesaki area pemakaman, namun secara umum proses pemakaman Olga berjalan lancar.   CNN Indonesia / Resty Armenia – Sabtu, 28/03/2015   13:14 WIB
Keranda mayat dari komedian Yoga Syahputra atau yang dikenal Olga diangkat oleh para kerabatnya saat akan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Malaka, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Sabtu (28/3/2015). Jenazah Olga tiba di Indonesia pukul 08.00 WIB.     TRIBUNNEWS / JEPRIMA – Sabtu, 28 Maret 2015    16:34 WIB
kapanlagi.com
kapanlagi.com
liputan6.com
Warga dan penggemar terlihat memadati acara tahlilan tujuh hari kematian Olga Syahputra di kawasan Duren Sawit, Jakarta, Jumat (3/4/2015). Komedian 32 tahun itu meninggal akibat sakit meningitis yang dideritanya. Liputan6.com / Herman Zakharia – 04 Apr 2015 at 12:30 WIB
Ribuan orang datang melayat ketika Olga dimakamkan. Pun demikian saat tahlilan tujuh harian, Jumat, 3 April lalu. Beginilah nuansa pengajian untuk Olga Syahputra. Acara tahlilan bahkan berlangsung ricuh. Masyarakat berebut besek dan buku yasin bergambar Olga. Kepergian artis itu adalah sebuah fenomena. Tak banyak seleb yang kematiannya menjadi fenomena, ramai diberitakan media dan mengundang animo masyarakat. Sebelum Olga, hanya wafatnya Ustad Jeffry Al Buchori yang begitu menarik perhatian khalayak di tahun 2013.     Liputan6.com / Muhammad Akrom Sukarya – 06 Apr 2015 at 19:25 WIB
Ustad Zaki Mirza menyampaikan tausiah di acara tahlilan tujuh hari kematian Olga Syahputra di kawasan Duren Sawit, Jakarta, Jumat (3/4/2015).     Liputan6.com / Herman Zakharia – 04 Apr 2015 at 12:30 WIB
Nama Olga Syahputra bukan lah nama sebenarnya, dan presenter tersebut baru memakainya ketika mejadi bagian dari Sanggar Ananda. Orang tua dan keluarga Olga mengungkap nama asli sosok ceplas-ceplos tersebut adalah Yoga Syahputra, namun sempat beredar isu bahwa nama komedian itu sebenarnya adalah Bambang. “Ya kan udah diganti sama keluarganya, wallahualam. Mungkin yang lebih tahu keluarga,” ucap Habib Selon ditemui di kediaman Olga, Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (1/4) malam. Meski tahu tentang perubahan nama yang dilakukan oleh Olga Syahputra, Habib Selon yang cukup dekat dengan presenter tersebut tidak tahu nama aslinya. Sama seperti kebanyakan orang, ia mengenal Olga ketika telah populer dengan nama yang kerap dipakainya di televisi.     kapanlagi.com / Sabtu, 04 April 2015    17:05 
Ribuan orang menghadiri tahlilan tujuh hari kematian Olga Syahputra di kawasan Duren Sawit, Jakarta, Jumat (3/4/2015). Komedian 32 tahun itu meninggal akibat sakit meningitis yang dideritanya.    Liputan6.com / Herman Zakharia – 04 Apr 2015 at 12:30 WIB
Ribuan anak yatim menghadiri tahlilan tujuh hari kematian Olga Syahputra di kawasan Duren Sawit, Jakarta, Jumat (3/4/2015). Komedian 32 tahun itu meninggal akibat sakit meningitis yang dideritanya.    Liputan6.com / Herman Zakharia – 04 Apr 2015 at 12:30 WIB
Sebagian besar isi tulisan surat ini sudah aku tuliskan pada 7 April 2015 malam, lalu keesokan hari pada 8 April 2015 jam 3.31 AM dinihari waktu Jakarta muncul tweet Bill Gates dengan kode link “1GEG8bl”. Tiga huruf “GEG” seperti dari acara Just For Laugh Gags yang disiarkan hampir setiap malam oleh Indosiar sekitar jam 12 malam, acara komedi berupa cuplikan jebakan-jebakan humor kepada masyarakat di tempat umum, diproduksi oleh TV Kanada. Jadi “1GEG8″ terkait dengan soal aku pindah ke Kanada yang pada peta berada diatas Amerika, juga agar aku seperti LAPAN lembaga antariksa dan penerbangan nasional, sesuai kesediaanku naik menghadap Yang Maha Kuasa ketemu ajal. Sedangkan dua huruf terakhir pada kode link”1GEG8bl”  itu ditulis huruf kecil, seperti terkait nama depan Bill Gates dan agar dia tetap di bawah, tetap berada di dunia ini.
Setelah dipastikan meninggal di Singapura kemarin sore, jenazah Olga Syahputra akhirnya tiba di rumah duka pagi ini, Sabtu (28/3). Mobil merah mewah ini disediakan untuk menjemput Billy, sang adik.     kapanlagi.com / Sabtu, 28 Maret 2015   11:31
Opel Cascada 2013    netcarshow.com
Mercedes E550 Convertible 2014     Caricos.com
Diantara foto-foto terkait berita Olga Syahputra meninggal dunia 27 Maret 2015, ada foto sebuah Mercedes warna merah. Semula aku pikir itu bukan hal yang aneh, para selebriti yang sukses memang antara lain ditunjukkan dengan koleksi mobil mewah. Tapi setelah aku perhatikan lebih lanjut, itu merupakan Mercedes open kap, jadi seperti terkait dengan suratku “Cascada Open Kap Dan Boyhood Film Favorit Obama Tahun 2014” soal Opel Cascada yang diluncurkan sejak tahun 2013 dengan atap open kap yaitu bagian atap dapat dibuka, seperti merupakan simbolik sesuai dengan kesediaanku ketemu ajal, agar ruhku mudah ditarik dari atas. Waktu aku cari info lebih lanjut soal Mercedes E550 convertible atau dalam istilah Indonesia open kap itu, ternyata pada Google Image di bagian paling atas ada empat foto mobil tersebut dari situs yang sama yaitu Caricos.com. Ini seperti terkait teman kakakku yang perempuan dulu di SD dan SMP yaitu dua orang bersaudara Nara dan Rico, dimana kemudian sang kakak Nara meninggal dunia. Jadi mobil Mercedes E550 convertible merah yang muncul untuk menjemput Billy Syahputra di bandara saat datang dari Singapura bersama jenazah sang kakak Olga Syahputra itu, seperti isyarat agar aku konsisten soal open kap, soal agar ruhku mudah ditarik dari atas.
Pada bagian daftar merk-merk mobil di halaman Auto Pictures and Wallpaper situs Caricos.com, ternyata tidak ada merk Opel. Mungkin karena sudah diwakili oleh Vauxhall yang sama-sama dalam group perusahaan mobil terkemuka AS yaitu GM, Opel belokasi di Jerman dan Vauxhall berlokasi di Inggris seperti pernah aku ungkapkan di “Bill Gates Baju Kotak-kotak, Opel Rekord 66 Dan Kap Terbuka Untuk 4“, dan sebagian besar model kedua merk itu memang sama. Tapi jadi seperti memuat isyarat juga untuk aku, yaitu agar aku konsisten dengan Opel “Cascada Open Kap Dan Boyhood Film Favorit Obama Tahun 2014“. Jadi Opel tidak berada di situs Caricos.com, agar aku tidak menjadi seperti Rico yang sang kakak Nara meninggal dunia, padahal nama kakakku Faisal memuat “sal” seperti pada kata “Salib”, dan kalau orang-orang terkait Salib diangkat dari dunia ini dapat terjadi perebutan senjata-senjata pemusnah masal yang berujung ke kiamat.
Rumah duka jenazah Olga di jalan Kresna Raya 4 Duren Sawit, tidak seberapa jauh dari tempat tinggal kakakku Faisal di Pondok Bambu Permai. Nama kakakku Faisal memuat “sal” seperti pada kata “Salib”, dan kalau orang-orang terkait Salib diangkat dari dunia ini dapat terjadi perebutan senjata-senjata pemusnah masal yang berujung ke kiamat.Dan adik dari Olga itu adalah Billy Syahputra, mengingatkan pada Bill Gates yang belakangan ini nampak berminat beli lukisanku. Jadi seperti ada isyarat bahwa kalau Bill Gates jadi beli beberapa lukisanku, adalah karena ada soal penting yang harus aku lakukan terkait nasib umat manusia.
Keluarga dan kerabat Olga Syahputra: (duduk di kursi dari kiri ke kanan) Nur Rahman (ayah), Bily Syahputra (adik kandung), Mak Vera (manajer), dan Habim Salim Alatas atau Habib Seleon, menggelar jumpa pers usai tahlilan tujuh hari meninggalnya Olga Syahputra, di Perumahan Kavling DKI, Jalan Kresna Raya No.4 RT11/RW06, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (3/4/2015) malam.    kompas.com / Sabtu, 4 April 2015 | 00:34 WIB
Adik Olga Syahputra, Billy terlihat khusyu berdoa di acara tahlilan tujuh hari kematian Olga Syahputra di kawasan Duren Sawit, Jakarta, Jumat (3/4/2015).     Liputan6.com / Herman Zakharia – 04 Apr 2015 at 12:30 WIB

 
 

Yoga Syahputra komedian terkenal Indonesia yang sedang dalam puncak karier, atau yang lebih dikenal dengan nama Olga Syahputra, meninggal dunia di RS Mount Elizabeth Singapura pada hari Jumat tanggal 27 Maret 2015 yang lalu dalam usia 32 tahun. Semula aku pikir tidak ada kaitan dengan aku. Tapi diantara berbagai video berita yang muncul di TV terkait soal Olga Syahputra  wafat, ada video berita yang memuat nomer pada rumah duka di Duren Sawit, yaitu 04. Terlihat jelas angka 04 itu, pada semacam kayu ukuran mungkin sekitar 15 x 35 cm dengan dasar hitam dan tulisan krem, ditempelkan di atap beton di atas garasi, antara lantai bawah dan atas.  Angka 04 itu seperti terkait namaku Firman yang dalam bahasa Jerman atau Belanda kata “fir” berarti 4. Setelah aku cari lebih lanjut di Internet, ternyata rumah duka Olga Syahputra itu memang rumah nomer 4 yaitu jalan Kresna Raya 4 Duren Sawit. Tapi dari foto Google Maps Street View yang dibuat tahun 2013, tulisan nomer rumah 04 seperti yang ada di video berita itu belum ada.

Dulu di Benison Ad pada tahun 1981, yang aku pernah sebutkan di “Naik Tanpa Nisan Dan Bill Gates Soal Jiwasraya“, aku kerja sebagai artis pembuat desain iklan, dan ada pegawai di bagian sekretaris yang bernama Olga, perempuan umur sekitar 20-an, langsing dengan kulit sawo matang dan berpenampilan remaja bukan seperti sekretaris kantoran. Saat itu kantor Benison Ad terletak di gedung Sancta Maria House jalan Ir. H. Juanda 29 Jakarta Pusat. Pada kop surat tertulis 1st floor, tapi sebetulnya lantai dua, naik tangga dulu dari lantai dasar. Kalau di gedung perkantoran ‘kan memang satu lantai diatas lantai dasar disebut lantai 1, walaupun kalau di rumah biasa atau di ruko lantai seperti itu disebut lantai 2. Kadang aku suka merinding juga kalau lagi jalan sendirian di dalam gedung Sancta Maria House itu untuk sholat di tempat sholat di bawah tangga, maklum gedung itu gedung kuno dari jaman Belanda.

Diantara klien dari Benison Ad saat itu adalah TV Toshiba, waktu tahun 1981 itu iklan memunculkan soal Black Stripe, teknologi inovasi Toshiba yang membuat gambar di TV lebih jelas. Entah bagaimana, pada akhir Desember 2014 tepat tanggal 31 siang, TV lama di kamarku merk Panasonic 14 inchi tiba-tiba mati, rusak, seperti tidak ada listrik yang masuk. TV Panasonic itu aku beli tahun 2004 karena TV yang sebelum itu rusak, aku beli di Citos siang hari menjelang siaran langsung final Piala Eropa pada malam hari, yang kemudian dijuarai oleh tim Yunani dengan seragam biru seperti warna logo Panasonic itu.

Setelah beberapa hari tidak lihat TV karena TV Panasonic itu rusak, aku dapat info di Internet bahwa di Electronic City ada TV 14 inchi. Maka pada tanggal 7 Januari 2015 aku sempatkan datang ke toko Electronic City cabang Cinere seperti yang sudah aku sebutkan pula di “AIRAISA Dan Bagian Upaya Mengubah Energi Negatif Jadi Positif“. Tapi saat sampai disitu, ternyata TV 14 inchi sudah habis, dan petugas toko mempersilakan aku naik ke lantai 2, yang ada TV LED 19 inchi merk Toshiba harga 1,799 juta. Ketika aku minta diskon, semula aku cuma dikasih diskon 100 ribu dan aku sudah setuju, tapi saat sampai di kasir untuk proses lebih lanjut aku diberi tahu ada diskon lain sehingga aku cuma bayar 1,397 juta.

Sebelum pulang, di dekat meja kasir petugas yang sebelum itu melayani aku di lantai atas, menawarkan untuk setel channel. Dan aku setuju, tapi harus tunggu sebentar karena ada TV dari pembeli lain yang sedang disetel, TV besar LG sekitar 50 inchi lebih. Sesudah sampai giliranku dan disetel, aku bawa pulang TV Toshiba 19 inchi itu naik angkot lalu disambung naik sepeda yang aku titip di Indomaret dekat rumah, dengan digantung pakai tali rafia di leher. Tidak terlalu berat, dan karena merupakan sepeda cowo yang ada besi di tengah, jadi bagian bawah dus TV tersandar pada besi itu, sehingga lebih ringan lagi. Dan, ini yang menarik, hampir tiga bulan setelah aku beli pada 7 Januari 2015 itu, aku baru sadar bahwa saat disetel di toko Electronic City itu, channel RCTI belum masuk. Memang saat itu antene agak kurang bagus, sehingga setelan otomatis pencari channel TV tidak menangkap sinyal RCTI mungkin. Dan aku baru sadar bahwa channel RCTI belum ada, pada 31 Maret 2015 sore saat mau lihat siaran langsung sepakbola U-23 antara Indonesia vs Korsel. Dua pertandingan terdahulu lawan Timor Leste dan lawan Brunei aku tidak lihat, jadi aku merasa penting untuk lihat pertandingan terakhir group antara Indonesia vs. Korsel itu. Namun itupun sudah terlambat, selain karena harus setel channel dulu untuk mendapatkan RCTI, juga aku tidak tahu persis jam berapa pertandingan dimulai sehingga saat aku mulai nonton, pertandingan sudah berakhir dengan skor 4-0. Channel RCTI yang belum masuk dan baru aku sadari hampir tiga bulan kemudian itu, dan langsung ada skor 4-0 seperti itu, jadi seperti isyarat lain terkait realisasi kesediaanku ketemu ajal. Sebab untuk pertama kali aku muncul di TV adalah di RCTI tahun 2004 ketika ada acara pengumpulan dana untuk korban Tsunami Aceh dan aku ikut melelang lukisan Lady Di.

Setelah Olga meninggal pada 27 Maret 2015, nama Olga itu untuk aku jadi seperti berarti “Old Gak”, seperti memuat pesan agar aku jangan meninggal dalam usia yang terlalu tua. Apalagi tanggal Olga meninggal adalah tanggal 27, seperti sering aku sebutkan angka 27 itu seperti terkait kakakku Faisal yang merupakan anak ke 2 di keluargaku yang sekolah di SMAN 7 Jakarta. Dan nama kakakku Faisal itu memuat “sal” seperti pada kata Salib, kalau orang-orang yang terkait dengan Salib diangkat dari dunia ini dapat terjadi perebutan senjata pemusnah masal yang berujung ke kiamat. Rumah duka jenazah Olga di jalan Kresna Raya 4 Duren Sawit juga tidak seberapa jauh dari tempat tinggal kakakku Faisal di Pondok Bambu Permai. Dan adik dari Olga itu adalah Billy Syahputra, mengingatkan pada Bill Gates yang belakangan ini nampak berminat beli lukisanku.

Sebagian besar isi tulisan surat ini sudah aku tuliskan pada 7 April 2015 malam, lalu keesokan hari pada 8 April 2015 jam 3.31 AM dinihari waktu Jakarta muncul tweet Bill Gates dengan kode link “1GEG8bl”. Tiga huruf “GEG” seperti dari acara Just For Laugh Gags yang diproduksi oleh TV Kanada dan disiarkan oleh Indosiar hampir setiap malam sekitar jam 12 malam. Pada peta, negara Kanada berada diatas Amerika. Sedangkan angka 8 dari LAPAN, lembaga antariksa dan penerbangan nasional, sesuai kesediaanku naik menghadap Yang Maha Kuasa ketemu ajal. Dan dua huruf terakhir pada kode link”1GEG8bl”  itu ditulis huruf kecil, seperti terkait nama depan Bill Gates dan agar tetap di bawah, tetap berada di dunia ini.

Diantara foto-foto terkait berita Olga Syahputra meninggal dunia 27 Maret 2015, ada foto sebuah Mercedes warna merah open kap. Jadi seperti terkait dengan suratku “Cascada Open Kap Dan Boyhood Film Favorit Obama Tahun 2014“, soal Opel Cascada yang diluncurkan sejak tahun 2013 dengan atap open kap yaitu bagian atap dapat dibuka, yang seperti merupakan simbolik sesuai dengan kesediaanku ketemu ajal, agar ruhku mudah ditarik dari atas.

Kembali ke soal Benison Ad tempat aku pernah kerja di tahun 1981 itu di gedung Sancta Maria House jalan Juanda 29 Jakarta Pusat, selain sekretaris bernama Olga, ada juga teman sesama artis desainer yang bernama Rita. Jadi seperti terkait nama kamu Rahma Sarita, meskipun itu adalah tahun 1981 saat aku belum kenal kamu, dan umur kamupun saat itu masih 6 tahun. Rita masuk beberapa hari setelah aku mulai kerja di situ, dan mendapat meja kerja tepat di depanku. Dia cewe Tionghoa, lulusan sekolah desain Amerika, tinggi sekitar 170, rambut panjang ikal, pakaian cenderung modis. Seringkali pakai blus putih dengan rok midi span hitam. Momen Olga Syahputra meninggal tanggal 27 Maret 2015 beberapa hari sebelum ulang tahun kamu ke-40 pada 7 April 2015, dan berbagai kejadian yang aku sebutkan diatas yang seperti saling terkait itu, jadi seperti isyarat lain bahwa betulan ada soal serius yang harus aku jalani setelah aku jual lukisan-lukisanku, soal serius terkait nasib umat manusia.

 
 

Jakarta,  10 April 2015.
wassalam,

 
 

a.m. firmansyah
sms +62812 183 1538

 
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: