AB852. Aneka Rupa Dan Warna Nomer Rute Angkot 61 Serta Isyarat Perjalanan Dalam Realitas Bukan Cuma Lewat Internet

 
 

Rahma Sarita: assalamualaikum wr wb

HAL: Aneka Rupa Dan Warna Nomer Rute Angkot 61
Serta Isyarat Perjalanan Dalam Realitas Bukan Cuma Lewat Internet

 
 

Waktu aku menulis “Daftar Ke Program Berhadiah 20 Pada Sekitar Dua Hari Peringatan Kenaikan“, ada kendala yaitu aku tidak sempat memotret Angkot 61 untuk dimuat di tulisan itu. Dan ternyata foto Angkot 61 tidak mudah didapat di Internet, yang ada adalah foto Angkot 128 di jalan raya di Depok seperti pada foto diatas. Sesuai perkembangan jaman, aku rubah nomer Angkot itu dengan program pengolah foto yang ada, dan jadilah foto itu menjadi sama seperti Angkot 61 sebagaimana terlihat pada foto dibawah ini.
Namun ada problem lain, yaitu bahwa selain foto Angkot 128 yang aku rubah jadi Angkot 61 itu, aku juga memuat foto Angkot 61 lain yaitu dari Google Street View, dengan nomer rute yang sama 61 tapi dari jenis huruf yang berbeda, dan warna angka juga berbeda yaitu warna hitam diatas dasar putih. Akan tetapi kalau aku tunda pemuatan tulisan itu, aku khawatir keburu basi, jadi aku tetap muat saja dulu tulisan itu.
Muncul kekhawatiran di pikiranku, perbedaan nomer Angkot 61 itu mungkin akan menimbulkan pertanyaan pada Bill Gates waktu lihat perbedaan itu. Apalagi kalau lalu mendapat masukan dari orang yang jarang naik angkot, bisa lebih melenceng dugaan yang muncul. Maka pada siang hari 21 Mei 2015 aku sempatkan memotret beberapa Angkot 61, untuk memperlihatkan bahwa memang nomer 61 yang digunakan pada Angkot 61 itu tidak semua sama, baik tipe huruf maupun warna dan posisi penempatan, yang penting di sebelah kiri dan cukup jelas terlihat, seperti dapat dilihat pada foto-foto berikut ini. Dan itu bagian dari kreatifitas para supir Angkot.
Pada Angkot yang ini, angka 6 warna
putih sedangkan angka 1 berupa
outline putih.
Ini bukan hasil olahan dengan program pengolah foto, tapi betulan memang ada juga nomer 61 itu yang berwarna kuning dengan warna dasar kotak merah.
Kalau ini warna angka 61 merah, dengan outline putih. Maaf sedikit buram karena Angkot sedang berlalu dengan cepat saat dipotret. 
Kalau ini kebalikan dari diatas, kalau diatas warna dasar kotak merah dan angka kuning, sedangkan ini warna dasar kotak kuning dengan angka merah. Tipe huruf juga berbeda, yang ini lebih melebar.
Kalau yang ini angka 61 dipasang miring keatas.
 
 
Ini malah beda lagi, angka 61 itu tidak dipasang di bodi pada sebelah atas dari lampu besar, melainkan di kaca depan.
Foto diatas aku buat pada 21 Maret 2015 sekitar jam 14.44 siang, beberapa jam kemudian pada malam hari jam 10.58 PM muncul tweet Bill Gates yang memuat foto bersama Warren Buffett memakai penutup hidung berupa hidung badut, rednose. Jadi seperti terkait foto ini yang ada mobil putih di belakang Angkot 61.
Tujuanku membuat foto-foto Angkot 61 pada 21 Mei 2015 siang, adalah selain untuk menunjukkan bahwa tipe huruf angka untuk nomer rute itu memang cenderung berbeda-beda pada setiap angkot, juga untuk mengganti foto yang aku olah dari Internet itu. Lalu pada 21 Mei 2015 malam hari jam 10.58 PM waktu Jakarta muncul tweet dari Bill Gates yang memuat foto Bill Gates bersama Warren Buffett memakai hidung badut, rednose. Semula aku pikir tidak ada kaitan sama aku, tapi ketika aku olah foto-foto yang aku jepret siang itu,aku baru perhatikan ada foto Angkot 61 yang di belakang ada mobil putih. Jadi nomer 61 itu seperti berarti “end AM Firmansyah satu orang saja”, dan mobil putih di belakang itu mewakili Bill Gates dan Warren Buffett, memakai hidung rednose karena aku sudah jadi jenazah di sebelah depan.
Keesokan hari sesudah sholat Subuh aku sempatkan untuk membuat fotoku dengan rednose juga, berupa buah cherry yang aku dapat dari Internet. Lalu aku segera kirim foto itu dalam tweet ke Bill Gates, sebab seperti disebutkan pada tweet Bill Gates diatas, program rednose itu adalah bagian dari RedNoseDay untuk amal, berupa #RedNose25, dimana semua orang diajak untuk berfoto selfi dengan rednose, lalu dikirim ke Bill Gates. Untuk setiap tweet semacam itu yang masuk, Bill & Melinda Gates Foundation akan menyumbangkan 25 US Dollar kepada beberapa badan sosial.

 
 

Waktu aku menulis “Daftar Ke Program Berhadiah 20 Pada Sekitar Dua Hari Peringatan Kenaikan“”, ada kendala yaitu aku tidak sempat memotret Angkot 61 yang aku naiki dan lalu aku muat di tulisan itu. Namun aku pikir karena sekarang sudah jaman Internet, lebih baik dapatkan saja foto Angkot 61 itu di Internet, kalau ada beda-beda sedikit bisa diolah dengan program pengolah foto dan yang penting diberi caption “adaptasi dari” serta nama sumber foto itu. Dan ternyata foto Angkot 61 tidak mudah didapat di Internet, yang ada adalah foto Angkot 128 di sebuah jalan raya di Depok, dengan warna mobil sama seperti Angkot 61 cuma nomer rute berbeda.

Sesuai perkembangan jaman, aku rubah nomer Angkot itu dengan memakai program pengolah foto yang ada, dan jadilah foto itu menjadi sama seperti Angkot 61. Namun masih ada kendala lain, yaitu bahwa selain Angkot 128 yang aku rubah jadi Angkot 61 itu, aku juga memuat foto Angkot 61 lain dari Google Street View, dengan nomer rute yang sama 61 tapi dari jenis huruf yang berbeda, dan tulisan warna hitam diatas dasar putih. Padahal nomer rute 61 yang aku olah dengan pengolah foto itu selain jenis huruf sudah jelas beda, dan warna tulisan adalah putih diatas warna dasar biru warna Angkot. Akan tetapi kalau aku tunda pemuatan tulisan itu, aku khawatri keburu basi, jadi aku tetap muat saja dulu tulisan itu.

Muncul kekhawatiran di pikiranku, perbedaan nomer Angkot 61 itu mungkin akan menimbulkan pertanyaan pada Bill Gates waktu lihat perbedaan itu. Apalagi kalau lalu mendapat masukan dari orang yang jarang naik angkot, bisa lebih melenceng dugaan yang muncul. Maka pada siang hari 21 Mei 2015 aku sempatkan memotret beberapa Angkot 61, untuk memperlihatkan bahwa memang nomer 61 itu tidak semua sama, baik tipe huruf maupun warna dan posisi penempatan, yang penting di sebelah kiri dan cukup jelas terlihat. Ada yang warna putih diatas warna dasar biru warna mobil Angkot, ada yang warna angka kuning diatas warna dasar kotak merah, dan lain-lain. Malah ada juga yang angka 61 itu ditempatkan di kaca depan, bukan di bodi mobil diatas lampu depan. Tapi perbedaan itu memang diperbolehkan sesuai kreatifitas para sopir Angkot, karena yang penting adalah ukuran angka cukup besar dan jelas, agar dapat dilihat dari jauh oleh orang yang berdiri di pinggir jalan yang akan jadi penumpang.

Soal ini sekaligus menjadi isyarat bahwa bagaimanapun juga tetap penting untuk aku pergi langsung ke berbagai tempat di dunia, bukan cuma mengandalkan pada yang ada di Internet. Sebab ada pengalaman yang berbeda, ketika melangkah di tempat baru, ketemu suasana baru, bersentuhan dengan hal-hal baru, sehingga dapat memancing inspirasi untuk muncul. Karena itu pula banyak para seniman yang sering melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia, entah itu penulis, pelukis, fotografer, penyanyi, aktor-aktris, dan lain-lain. 

Paragraf diatas mengenai “bagaimanapun juga tetap penting untuk aku pergi langsung ke berbagai tempat di dunia, bukan cuma mengandalkan pada yang ada di Internet”, aku save pada 21 Mei 2015 malam. Lalu pada 23 Mei 2015 jam 5.15 AM Subuh waktu Jakarta, muncul tweet Bill Gates mengenai buku “The Magic of Reality” tulisan Richard Dawkins. Jadi seperti merupakan dukungan Bill Gates untuk rencanaku melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia menggali inspirasi, melakukan perjalanan dalam realitas bukan cuma perjalanan di Internet, sebelum ketemu ajal. Nama penulis buku itu Richard Dawkins, dimana nama depan Richard seperti berarti “rich art” terkait aku jual lukisan-lukisanku dengan harga yang baik. Sedangkan nama belakang Dawkins mengingatkan pada Dow Jones, yang antara lain menjadi nama untuk index Wall Street sejak tahun 1896 yaitu index Dow Jones. Ini terkait dengan yang aku tulis di paragraf terakhir “Tujuh Tewas Dalam Helikopter Para Dubes Dan Empat Tewas Pada Airbus A400M Setelah Penamaan Urutan 4 Tahta Inggris“. Jadi nama belakang Dawkins seperti berarti “Dow ke I end”, dalam arti kata “saham” pada bursa Wall Street itu bukan mengenai aku menjadi “sah”, menjadi pemimpin politik, melainkan “ke I end”, ajal datang menemuiku pada saat aku melakukan perjalanan menggali inspirasi ke berbagai tempat di dunia. 

Buku-buku lain dari Richard Dawkins juga sudah dibaca oleh Bill Gates, antara lain “The Selfish Gene“”. Ini jadi merupakan isyarat penting juga untuk aku, dalam arti kalau setelah melewati berbagai kejadian yang tidak terlalu biasa selama beberapa tahun belakangan ini, namun aku lebih suka bersikap “business as usual”, agar diriku sendiri aman dan tenang menjalani hidup, maka akan muncul kesan aku ini seorang yang selfish, seorang yang egois. Sekedar kata Selfish saja sudah negatif, apalagi ditambah dengan Gene, sehingga berarti Jin Egois, sudah Jin, Egois pula. Sebab sudah jelas ada beberapa bencana besar yang seperti terkai dengan aku, koq aku malah lebih pilih mencari aman untuk diriku sendiri hidup tenang dan senang. Tentu lebih baik aku mewujudkan rencana jual lukisan dengan harga yang baik, lalu melakukan perjalanan menggali inspirasi ke berbagai tempat di dunia, sebelum kemudian ketemu ajal untuk kebaikan umat manusia.

 
 

Jakarta,  23 Mei 2015.
wassalam,

 
 

a.m. firmansyah
sms +62812 183 1538

 
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: