AB893. Wall 1989 Direspon Bill Gates Dan Indonesia Untuk Pertama Kali Juara 3 Di Miss World 2015, Serta Miss Universe 2015 Salah Juara

 
 

Rahma Sarita: assalamualaikum wr wb

HAL: Wall 1989 Direspon Bill Gates Dan Indonesia Untuk Pertama Kali Juara 3 Di Miss World 2015, Serta Miss Universe 2015 Salah Juara

 
 

 
 
Dua suratku sebelum ini, “Tweet Najat NVB Memuat Kata Tete Lalu Dua Tewas Lift Jatuh Di Kantor Nestle Dan Memphis Tahan Bola Dengan Dada” dan “Angela Merkel Perempuan Ke 4 Person Of The Year Majalah Time Dan Pesan Penting Untuk Aku Soal Wall 1989“, meskipun aku muat pada 17 Desember 2015 tapi sudah mulai aku kerjakan sejak sekitar tanggal 11 Desember 2015 pagi karena banyak bahan yang perlu dikumpulkan. Dan pada 11 Desember 2015 malam sekitar jam 10.54 PM tweet Bill Gates memuat soal buku “Mindset The New Psychology of Success“, mengenai argumen dari Carol Dweck bahwa mindset kita, kerangka berpikir kita, mempengaruhi kemampuan kita untuk belajar. Ungkapan “aku tidak dapat mengerjakan soal itu karena bukan bidangku”, dianggap sebagai sesuatu yang lebih disebabkan oleh kerangka berpikir kita, bukan oleh kemampuan kita. Hal seperti itu pernah juga aku baca di koran maupun juga dalam kursus kreatifitas yang pernah aku ikuti. Jadi kita harus melepaskan diri dari hambatan berpikir kita yang semacam itu, agar kita dapat menyerap pelajaran dengan baik. Namun di pihak lain kita juga tidak dapat melepaskan diri dari soal minat dan bakat, oleh sebab itu dalam replyku aku menyebut kalau kita meminta John Lennon untuk memilih akan membuat software atau mengarang lagu, maka meskipun mungkin dia bisa juga membuat software tapi karena minat dan bakat dia lebih ke arah musik, maka dia akan pilih mengarang lagu. Soal ini terkait juga dengan surat yang sedang akan aku kerjakan saat itu, yaitu kalau mungkin lift jatuh di gedung Nestle itu sengaja dilakukan oleh orang dengan kerangka berpikir tertentu setelah baca tweet dari Najat VB.   
 
Dua hari kemudian pada 13 Desember 2015, tweet Bill Gates memuat foto beberapa buku yang dia rekomendasikan untuk dibaca pada musim libur tahun ini, dan pada tumpukan buku-buku itu yang paling atas adalah buku yang ada tulisan cukup besar “Eradication”. Judul lengkap buku itu adalah “Eradication: Ridding the World of Diseases Forever?” karya Nancy Leys Stepan. Buku bertuliskan “Eradication” yang diletakkan paling atas pada tumpukan beberapa buku di meja Bill Gates itu jadi seperti terkait dengan kamu, karena “eradication” seperti berarti “RA” dari nama kamu Rahma, dan “dik” karena kamu lebih muda dari aku, serta “a si on” terkait kata “on-off” yang berarti hidup-mati. Jadi seperti pesan agar kamu tetap hidup, dan biar aku saja yang ketemu ajal. Pesan yang jadi penting karena muncul setelah kecelakaan lift di gedung Nestle dengan korban dua orang tewas.
 
Pada 15 Desember 2015, tweet Bill Gates memuat soal buku “Being Nixon: A Man Divided” karya Evan Thomas, mengenai Richard Nixon presiden AS ke 37 yang menjadi presiden pada tahun 1969-1974. Setelah menjalani masa jabatan pertama dari 1969 sampai 1973, lalu saat akan memasuki masa jabatan ke dua Nixon harus berhenti dari jabatan dia, karena ada kasus pemalsuan hasil pemilihan presiden tahun 1972 yang memenangkan dia. Kasus itu dikenal dengan skandal Watergate, beberapa anak buah Nixon menyelinap masuk ke kantor Partai Demokrat untuk memalsukan data, dan kasus itu berhasil dibongkar oleh wartawan Washington Post. Posisi dia digantikan oleh wapres Gerald Ford yang melanjutkan sisa masa jabatan ke dua Nixon dari 1973-1977. Kalau selama ini buku tentang Nixon cenderung mengungkap kejelekan Nixon akibat skandal Watergate itu, maka buku yang ditelaah oleh Bill Gates ini justru mengungkap jasa-jasa Nixon sejak awal masuk politik, sehingga Bill Gates menganggap buku ini untuk balance, “A Balanced Biography”.
Seperti  memuat juga pesan dari langit untuk aku terkait nama Richard Nixon, yang seperti berarti “Rich Art End I X On”. Oleh karena itu aku sering menyebut soal tidak ingin masuk poltik, antara lain pada suratku “Hak Tidak Mau Jadi Pemimpin Poltik” yang aku tulis pada Januari 2012. Jadi kalau lukisanku laku dengan harga yang baik, sehingga menjadi “rich art”, maka aku akan menghindari masuk politik, dan akan fokus ke perjalanan menggali inspirasi ke berbagai tempat di dunia sebelum lalu ketemu ajal. Ada pesan penting lain yaitu akibat kasus Watergate itu, Richard Nixon digantikan oleh wapres Gerald Ford. Jadi sesudah Richard Nixon lalu Gerald Ford, seperti berarti sesudah aku “rich art” dari menjual lukisan-lukisanku, maka aku harus “go Rahma” dan “AL die”, “four die”, sesuai kesediaanku ketemu ajal saat naik pesawat terbang kecil yang lalu jatuh ke air laut yang dalam. Penting untuk diingat, masa jabatan Richard Nixon, kasus Watergate, dan Gerald Ford itu terjadi sekitar tahun 1969-1977 saat aku masih sekitar SD-SMP-SMA, jadi tidak mungkin kalau aku yang menginspirasi. Oleh sebab itu harus hati-hati kalau mungkin ini merupakan skenario besar dari langit untuk menguji respon positif umat manusia, antara lain berupa kesediaan bantu aku memenuhi janji bersedia ketemu ajal dalam keadaan sudah jual lukisan-lukisanku dan menyumbang sebagian untuk amal sosial.
 
 
16 Desember 2015 tweet Bill Gates mengenai buku The Road to Character tulisan David Brooks. Terkait usia Bill Gates yang sudah mencapai 60 tahun pada akhir Oktober 2015 yang lalu, dan upaya menyeimbangkan dua sifat, virtue, yang ada dalam diri manusia yaitu resume virtue berupa sifat untuk mencapai kesuksesan yang ada pada bagian luar diri kita, dan eulogy virtue berupa kualitas untuk lebih mendalam. Mengutip pula dari Book of Genesis dan ungkapan rabi Joseph Soleveitchik soal dua jenis Adam pada diri manusia. Adam I adalah yang cenderung ingin sukses dalam karier dan ambisius, ingin mencapai status tinggi dan menang. Sedangkan Adam II lebih kepada sifat mendalam pada manusia,  karakter dalam diri manusia yang ingin pencerahan, tanpa banyak kata namun kukuh dalam soal benar dan salah, tidak cuma melakukan secara baik tapi juga menjadi orang baik. Kedua sikap ini juga kadang overlapping. Seperti dicontohkan oleh Bill Gates, saat dia bergiat membangun Microsoft sepintas lalu mungkin dianggap bagian dari Adam I yang ingin mencapai sesuatu yang tinggi dan kemenangan. Padahal, bukan cuma itu yang jadi motivasi Bill Gates, melainkan juga kepuasan kerja, membangun tim yang baik yang merupakan bagian dari sebuah industri baru yang melepaskan hambatan terhadap potensi umat manusia di seluruh dunia. Di pihak lain, kalau dia sedang aktif di bidang sosial melalui yayasan dia, mungkin tampak seperti tipe Adam II yang suka bersifat sosial, menjadi manusia baik, padahal sering muncul juga keinginan agar kerja sosial itu mencapai tahap setinggi mungkin seperti sikap yang ada pada Adam I.
Karena tweet ini dimuat setelah tweet soal Richard Nixon diatas, jadi seperti pesan juga untuk aku bahwa kalau aku tergoda masuk politik, maka aku akan malah sibuk oleh character assassination yang biasa muncul dalam politik, oleh sebab itu lebih baik aku fokus ke perjalanan menggali inspirasi ke berbagai tempat di dunia sebelum lalu ketemu ajal.
 
Tweet 17 Desember 2015 memuat soal sumbangan Bill Gates kepada anak-anak di negara Islam yang tergolong miskin, bekerjasama dengan Islamic Development Bank (IDB). Antara lain untuk lima tahun mendatang, IDB akan mengalokasikan kredit sampai 2 milyar US dollar untuk proyek-proyek di bidang kesehatan, pertanian dan infrastruktur, untuk meningkatkan taraf hidup rumah tangga termiskin. Terhadap dana pinjaman yang disediakan IDB sebesar 2 milyar US dollar itu, Bill Gates akan menyumbang hibah sebesar 500 juta US dollar untuk mengurangi tingkat bunga dari pinjaman IDB itu.
Sehingga dapat dikatakan sumbangan Bill Gates sudah beragam jenis, untuk berbagai kegiatan amal sosial, untuk menghapus Polio, mengatasi Malaria, dan berbagai problem sosial di dunia maupun untuk riset energi baru, dan lain-lain. Yang belum tinggal sumbangan yang lewat aku dengan melalui pembelian lukisan-lukisanku yang bernilai sejarah, dan lalu sebagian akan aku sumbangkan untuk amal sosial.
 
Ini menarik, saat kemunculan kamu di JakTV seperti biasa antara jam 20.30 sampai 21.30 pada Selasa 17 Desember 2015, Bill Gates memuat tweet pada jam 8.49 PM atau jam 20.49 malam hari waktu Jakarta, mengenai beberapa pemuda yang membantu pada saat kasus Ebola merebak di Liberia tahun 2014 yang lalu.
Tweet itu memuat link ke sebuah artikel di New York Times berjudul “They Helped Erase Ebola in Liberia. Now Liberia Is Erasing Them” tulisan Helene Cooper yang dimuat pada 9 Desember 2015. Mengisahkan tentang 30 pemuda yang mendapat tugas dari pemerintah untuk membakar jenazah orang-orang yang terkena wabah Ebola pada tahun 2014 yang lalu. Sebab menurut para pakar kesehatan, cara terbaik adalah membakar jenazah-jenazah itu untuk mencegah penularan Ebola. Selama sekitar 4 bulan, setiap hari para pemuda itu melakukan pembakaran jenazah-jenazah, dalam satu hari truk yang datang bisa membawa 30 sampai 100 jenazah. Selama 4 bulan itu mereka membakar sekitar 2000 jenazah. Semula digunakan incinerator karena lebih cepat, namun setiap pagi pada keesokan hari mereka harus membereskan tulang-tulang yang tersisa. Sehingga kemudian diputuskan membakar di semacam krematorium dengan altar semen, meskipun lebih lama namun jenazah-jenazah itu langsung menjadi abu semua. Meskipun tugas itu resmi dan mereka dapatkan dari pemerintah, namun masyarakat cenderung tidak dapat menerima pekerjaan yang dilakukan para pemuda itu. Sehingga bahkan sanak famili merekapun banyak yang jadi tidak mau lagi bertemu mereka. Sebab dalam tradisi masyarakat Liberia, jenazah harus dikubur, bukan dibakar, dan kuburan juga harus dirawat dengan baik. Bahkan satu tahun sekali ada hari yang disebut hari Decoration Day, dimana masyarakat mendatangi kuburan dengan membawa sapu, kain pel, sabun dan air, untuk membersihkan kuburan.
Tiga dari tigapuluh pemuda yang ditugaskan membakar jenazah korban wabah penyakit Ebola itu dimuat foto mereka di artikel di New York Times tersebut. Urutan foto-foto ketiga orang itu kurang lebih seperti pada foto diatas ini, tapi pada bagian teks tulisan aku potong karena yang asli terlalu panjang.  Foto yang dimuat paling atas adalah Sherdrick Koffa berbaju garis-garis, seperti merepresentasikan kesediaanku naik ke atas menghadap Yang Maha Kuasa ketemu ajal. Setelah itu foto empat orang berpakaian pelindung anti kuman di Sierra Leone, yang seperti terkait namaku Firman yang dalam bahasa Jerman atau Belanda kata “fir” berarti empat. Lalu foto Alexander Kaine yang juga dimunculkan pada tweet Bill Gates 17 Desember 2015 tersebut diatas. Karena berada dibawah foto empat orang berpakaian anti kuman itu, jadi nama Alexander Kaine itu seperti isyarat agar “all X under”, agar orang-orang terkait X tetap berada di bawah, tetap di dunia ini, dan biar aku saja yang naik menghadap Yang Maha Kuasa ketemu ajal. Sebab kalau orang-orang terkait X diangkat dari dunia ini, dapat terjadi perebutan senjata-senjata pemusnah masal yang berujung kiamat. Pesan ini jadi semakin bermakna karena dimunculkan menjelang akhir bulan Desember dimana kita sering menjumpai tulisan Merry X’mas, yang berarti Merry Christmas, di berbagai tempat maupun di media. Sedangkan foto yang paling bawah adalah foto William Togbah, seperti terkait nama asli Bill Gates yaitu William Gates, jadi seperti isyarat agar biarlah Bill Gates berada di bawah saja, berada di dunia ini saja, dan aku saja yang naik menghadap Yang Maha Kuasa ketemu ajal untuk kebaikan umat manusia.
The now-abandoned crematory in Marshall, Liberia, last month. Some of the 30 young men who worked there are still haunted by the work they did, and are being ostracized for it.     Credit: Samuel Aranda for The New York Times – DEC. 9, 2015
 
Sherdrick Koffa, estranged from his family because he helped burn bodies during the Ebola outbreak.      Credit: Samuel Aranda for The New York Times  – DEC. 9, 2015  
 
In Sierra Leone, a group of young men take on the dirtiest work of the Ebola outbreak: finding and burying the dead. By Ben C. Solomon on Publish Date August 23, 2014 – The New York Times – DEC. 9, 2015  
 
Alexander Kaine was one of the young Liberian men who helped cremate bodies during the Ebola epidemic.     Credit Samuel Aranda for The New York Times – DEC. 9, 2015  
 
William Togbah says no night goes by when he does not dream of seared flesh.      Credit: Samuel Aranda for The New York Times – DEC. 9, 2015  
 
 
 
 
Sabtu 19 Desember 2015 ada berita kejutan yang menarik, yaitu untuk pertama kali Indonesia mencapai juara 3 dalam ajang kecantikan dunia Miss World, yang untuk tahun 2015 ini diadakan di Sanya Tiongkok. Pada Miss World 2015 itu Indonesia diwakili oleh Miss Indonesia Maria Harfanti. Mireia Lalaguna Rozo (C) of Spain waves after winning the new title at the Miss World Grand Final in Sanya, China, next to Miss Russia, Sofia Nikitchuk (L), and Miss Indonesia, Maria Harfanti (R), on Dec. 19, 2015.     huffingtonpost / JOHANNES EISELE/Getty Images – 12/19/2015 02:46 pm ET
Seperti terkait dengan aku juga, karena nama depan Maria Harfanti seperti terkait soal aku menjadikan kamu sebagai Ema Rahma untuk aku, seperti tante Ema tanteku yang tetap hidup setelah sang suami meninggal dunia. Pesan untuk aku ini jadi seperti diperkuat karena yang jadi juara juga memiliki nama depan yang sepintas seperti nama Maria juga, yaitu Mireia Lalaguna Rozo dari Spanyol. Sedangkan nama belakang Maria Harfanti seperti terkait soal kakak beradik Prince William dan Prince Harry, yang seperti kakakku Faisal dengan aku. Jadi nama belakang Harfanti itu seperti agar aku anti menjadi seperti Prince Harry yang adik dari Prince William, sebab kalau posisiku di dunia ini sebagai adik terus dari kakakku Faisal, berarti aku di bawah dari kakakku, tidak sesuai dengan kesediaanku untuk naik menghadap Yang Maha Kuasa ketemu ajal. Lebih baik aku segera keluar dari dunia fana ini. Apalagi nama kakakku memuat “sal” seperti pada kata “Salib”, kalau orang-orang terkait Salib diangkat dari dunia ini dapat terjadi perebutan senjata-senjata pemusnah masal yang berujung kiamat.
Miss Indonesia Maria Harfanti
okezone
dailymail.co.uk –
18:56 GMT,
19 December 2015
Miss Spain Mireia Lalaguna Royo has won the Miss World 2015 crown, beating 116 other contestants at a glittering ceremony held at the Beauty Crown Grand Theatre in Sanya, China. She was handed her crown by the reigning Miss World 2014, Rolene Strauss of South Africa, and cheered on by second and third runners-up, Miss Russia Sofia Nikitchuk and Miss Indonesia Maria Harfanti.     ibtimes.co.uk / December 19, 2015    15:10 GMT
 
 
 
 
Setelah pada hari Sabtu 19 Desember 2015 ajang Miss World 2015 digelar di Sanya Tiongkok, lalu pada 20 Desember 2015 hari Minggu malam Miss Universe digelar di Las Vegas Amerika Serikat, atau kalau waktu Jakarta sudah Senin 21 Desember 2015 pagi. Jadi seperti terkait dengan soal aku juga karena yang menjadi MC pada Miss Universe 2015 itu adalah Steve Harvey, yang nama belakang dia juga seperti terkait soal kakak beradik Prince William dan Prince Harry, yang seperti kakakku Faisal dengan aku. Sebab aku yang seperti Prince Harry adik dari Prince William, berarti aku di bawah dari kakakku Faisal, tidak sesuai dengan kesediaanku untuk naik menghadap Yang Maha Kuasa ketemu ajal. Lebih baik aku segera keluar dari dunia fana ini. Apalagi nama kakakku memuat “sal” seperti pada kata “Salib”, kalau orang-orang terkait Salib diangkat dari dunia ini dapat terjadi perebutan senjata-senjata pemusnah masal yang berujung kiamat.
Malam final Miss Universe 2015 pada 20 Desember 2015 di Las Vegas itu menimbulkan kegaduhan pembicaraan ramai masyarakat, karena sempat terjadi salah pemberian gelar juara. Steve Harvey yang menjadi MC pada acara itu, dikenal juga sebagai host dari acara terkenal Family Feud  sejak tahun 2010, atau yang di Indonesia menjadi Family 100. Steve Harvey keliru menyebut sehingga yang tampil jadi juara adalah Miss Colombia, dan mahkota sudah sempat diberikan kepada Miss Colombia oleh juara Miss Universe tahun 2014 yang juga dari Colombia. Namun beberapa menit kemudian MC muncul lagi dan mengucapkan permohonan maaf, sebab dia salah membaca tulisan di kartu yang diberikan panitia pada detik-detik terakhir menjelang pengumuman. Juara pertama bukan Miss Colombia melainkan Miss Filipina. Maka mahkotapun diambil lagi dari Miss Colombia dan diserahkan ke Miss Filipina.
Seperti biasa dalam malam final Miss Universe, para kontestan yang masing-masing mewakili sekitar 100 lebih negara dikumpulkan di panggung. Lalu berdasar penilaian yang sudah mulai dicatat sejak mereka mulai datang dari negara masing-masing beberapa hari sebelum itu, jumlah mereka yang akan berlanjut ke final disaring menjadi 30 orang. Setelah itu ada tes singkat berupa pertanyaan dan juga penilaian dari penampilan dengan pakaian tertentu, disaring lagi jadi 15 orang, lalu jadi 10 orang, lalu 5 orang, dan menjelang akhir menjadi tinggal 3 orang, yang akan menjadi second runner-up, first runner-up dan juara.
 
Pada malam final Miss Universe 20 Desember 2015 itu, 3 orang finalis adalah dari Colombia, Amerika Serikat, dan Filipina. Kemudian yang dari Amerika Serikat menjadi second runner-up,  sehingga yang menunggu momen juara tinggal 2 orang yaitu dari Colombia dan Filipina.
 
Miss Colombia Ariadna Gutierrez dan Miss Filipina Pia Alonzo Wurtzbach berdiri berhadapan sambil berpegangan tangan, menunggu MC Steve Harvey, yang berjas putih di kanan menghadap penonton, untuk menyebutkan siapa yang jadi juara.
Sekitar 100 kontestan lain dari berbagai negara tampak di latar belakang, di panggung bagian belakang, ikut menyaksikan momen-momen pengumuman Miss Universe 2015.
 
MC Steve Harvey mengucapkan kata-kata yang ditunggu-tunggu itu: “Miss Universe 2015 is ……. Colombia……..”. Luapan kegembiraanpun melanda yang bersangkutan, dia berpelukan dengan Miss Filipina yang ada di depan dia dalam suasana penuh keharuan. Seorang perempuan muncul membawa rangkaian buket bunga dan diberikan kepada Miss Filipina, lalu menggandeng Miss Filipina untuk berkumpul dengan kontestan lain yang berdiri di bagian belakang panggung menghadap penonton. MC Steve Harvey juga pergi ke samping belakang panggung, tinggal sang juara Miss Colombia seorang diri di depan panggung menerima sambutan para hadirin.
 
Seseorang diantara penonton memberikan sebuah bendera Colombia kecil yang diterima dengan sukacita oleh Miss Colombia yang, saat itu, sudah diumumkan sebagai Miss Universe 2015.
 
Selempang bertulisan Miss Universe dikalungkan oleh seorang utusan panitia.
 
Diikuti seorang pria utusan dari panitia juga, memberikan buket bunga.
 
Dan sesuai tradisi, Miss Universe dari tahun terdahulu yaitu tahun 2014, muncul dengan membawa mahkota untuk Miss Universe yang baru. Miss Universe 2014 adalah Paulina Vega dari Colombia juga, merekapun berpelukan dengan sukacita.
She and Vega had first rushed to embrace each other when it was believed Colombia would remain the reigning Miss Universe.      dailymail.co.uk – 16:29 GMT, 21 December 2015
 
Miss Universe 2014 Paulina Vega memasang mahkota di kepala Ariadna Gutierrez yang saat itu telah disebut sebagai Miss Universe 2015, lalu Paulina Vega pergi meninggalkan panggung untuk memberi kesempatan Ariadna Gutierrez berinteraksi dengan audiens dan kontestan lain.
 
Beberapa saat, dalam hitungan menit, Ariadna Gutierrez menjalani momen-momen memakai mahkota dan selempang Miss Universe 2015 itu, menerima sambutan para penonton dan semua yang ada disitu. Sebelum lalu tampak MC Steve Harvey yang berjas putih itu muncul lagi dari belakang panggung, bersama seorang dari panitia.
Seseorang yang berjalan mendampingi MC Steve Harvey lalu berhenti dan berkumpul dengan para konstestan, sedangkan MC Steve Harvey melanjutkan jalan dengan langkah pelan-pelan mendekat ke Ariadna Gutierrez, seperti untuk menjaga perasaan yang bersangkutan.
 
……. dan sampailah pada momen yang kemudian jadi kegaduhan pembicaraan masyarakat itu, MC Steve Harvey mengucapkan “okay folks, ….. uhm ….. there’s ……… I have to apologize ….”, 
Momen ketika MC Steve Harvey mengucapkan “I apologize”. MC Steve Harvey mengungkapkan permohonan maaf karena kata-kata yang sebelum itu dia sebutkan, “Miss Universe 2015 is Colombia”, seharusnya adalah “first runner-up is Miss Colombia”, dengan kata lain yang juara adalah Miss Filipina. Memang baru pertama kali Steve Harvey yang komedian itu menjadi MC di acara Miss Universe seperti itu.
 
 
Pengumuman oleh MC Steve Harvey itu tentu mengejutkan semua yang menonton acara itu, terutama Miss Filipina yang seperti tidak percaya, dan juga Miss USA di belakang Miss Filipina.
Wurtzbach and Miss USA Olivia Jordan were both shocked when Harvey revealed it was Gutierrez who was first runner-up.     dailymail.co.uk – 16:29 GMT, 21 December 2015
 
 
MC Steve Harvey mengikuti ucapan permohonan maaf dan penjelasan dia dengan meneriakkan “Miss Universe 2015 is Miss Philippines…..”, dan Miss Filipina segera bergerak maju untuk tampil lagi di depan panggung. Miss Universe 2014 Paulina Vegapun juga muncul lagi di panggung, untuk melepas mahkota dari kepala Ariadna Gutierrez dan memasang di kepala Miss Filipina Pia Alonzo Wurtzbach. Dari video-video di Youtube, aku lihat segera setelah mahkota diletakkan di kepala Miss Universe 2015 yang baru, acara siaran langsung di TV langsung dihentikan, sehingga menambah kemisteriusan suasana malam itu.
 
It was actually Miss Philippines Pia Alonzo Wurtzbach who had taken the crown, and Gutierrez had to bend down and allow Former Miss Universe Paulina Vega to remove it from her head on live television.     dailymail.co.uk – 16:29 GMT, 21 December 2015
 
Vega placed the crown on Wurtzbach‘s head and the telecast abruptly came to an end, before she was allowed a victory lap.     dailymail.co.uk – 16:29 GMT, 21 December 2015
 
Paulina Vega Miss Universe 2014 yang pada 20 Desember 2015 mendapat tugas langka memindahkan mahkota Miss Univers 2015, dari Miss Colombia ke Miss Filipina. Malam itu Miss Colombia sempat merasakan jadi Miss Universe 2015 selama sekitar 4 menit 44 detik, dari sejak MC Steve Harvey mengumumkan dia juara, sampai Paulina Vega melepas mahkota dari kepala dia karena MC Steve Harvey telah salah menyebutkan siapa yang  juara.
 
And fellow contestants were equally shocked as the card was displayed on the screen so the audience could see Harvey’s mistake.       dailymail.co.uk – 16:29 GMT, 21 December 2015 Kartu yang memuat nama pemenang dan diberikan pada detik-detik terakhir menjelang pengumuman pemenang namun salah dibaca itu,  sempat ditayangkan juga pada layar lebar di panggung setelah kejadian seperti terlihat pada foto diatas.
 
Last year’s winner Paulina Vega was summoned back on stage and she had to do one of the most difficult task – remove the crown from Miss Colombia and placed it on Wurtzbach’s head instead. And sadly the crowning moment was marred and the program abruptly ended. A composed Miss Colombia later had a message for her fans who voted for her and said, “everything happens for a reason…”.      emirates247.com – Monday, December 21, 2015
 
Memang ketika pada tahun lalu yang terpilih menjadi Miss Universe 2014 adalah Paulina Vega, aku sudah merasa seperti ada isyarat untuk aku. Nama belakang Paulina Vega mengingatkan pada Vega dan Pepi yang jadi co-hosts dari Tukul Arwana di acara Bukan Empat Mata di Trans-7. Satu tahun kemudian, Steve Harvey yang jadi MC acara Miss Universe 2015 itu sejak tahun 2010 merupakan host dari acara Family Feud yang di Indonesia menjadi Family 100. Sedangkan dari November 2013 sampai Mei 2015, Tukul Arwana juga host di New Family 100 di Indosiar. Dan nama acara Bukan Empat Mata seperti terkait namaku Firman yang dalam bahasa Jerman atau Belanda kata “fir” berarti empat. Jadi kemunculan Paulina Vega menjadi Miss Universe 2014 seperti memuat isyarat “bukan empat Ema tak”, dalam arti kalau aku menikah adalah untuk kemudian istriku itu menjadi seperti tante Ema, tanteku yang tetap hidup setelah sang suami wafat.
Kejadian tak biasa berupa salah menyebut juara Miss Universe 2015 dan berlangsung beberapa menit, bahkan mahkota dan atribut Miss Universe 2015 itu sempat diberikan ke orang yang berbeda dari yang harus menerima, jadi seperti memuat pesan penting untuk aku. Sebab ibukota Filipina adalah Manila, seperti terkait kesediaanku Firman naik keatas Menghadap Yang Maha Kuasa, ketemu ajal menghadap Ilahi. Momen saat Paulina Vega sebagai Miss Universe 2014 memindahkan mahkota dari kepala Miss Colombia ke kepala Miss Filipina pada 20 Desember 2015 malam itu, seperti isyarat agar aku lebih fokus ke soal menghadap Ilahi sesuai kesediaanku. Mungkin ini ujian, bahwa meskipun aku seperti terkait dengan kegemerlapan duniawi di Las Vegas pada acara terkait para perempuan cantik sedunia, namun aku tetap ingat soal kematian. Bukan mustahil ujian akan ditingkatkan menjadi bukan cuma lewat Internet, tapi aku betulan berada di lingkungan itu setelah lukisanku terjual dengan harga sebaik mungkin, dan moga-moga aku lulus ujian itu sebab ini terkait nasib umat manusia.
 
 
 

 
 

Jakarta,  26 Desember 2015.
wassalam,

 
 

a.m. firmansyah
sms +62812 183 1538

 
 
 

%d bloggers like this: