AB878. Lift Macet 1983 Dan 2015 Serta Seni Kepada Ajal Untuk Kebaikan Umat Manusia

 
 

Rahma Sarita: assalamualaikum wr wb

HAL: Lift Macet 1983 Dan 2015 Serta Seni Kepada
Ajal Untuk Kebaikan Umat Manusia

 
 

Paris Hilton saat di dalam lift yang macet di Shanghai 17 Oktober 2015 pagi.
Pada dinding dalam lift ada poster acara Paris Hilton yang akan berlangsung pada malam hari.
Pintu lift terbuat dari kaca dengan bingkai dari aluminium.
Pada foto di bawah ini tampak kunci lift sedang berusaha dibuka dari luar. Dulu waktu aku mengalami macet lift di tahun 1983, juga dibuka pada kunci seperti itu, ada lubang kecil di bagian atas pintu lift yang merupakan lubang kunci untuk membuka pintu lift dari luar dalam keadaan darurat.
Tampak mulut dari petugas yang sedang membuka kunci pintu lift dari luar dengan wajah menempel pada kaca pintu lift, dan wajah orang-orang yang sedang di luar lift.
Setelah kunci pintu lift dibuka dari luar, lalu pintu lift ditarik ke samping dengan tangan agar terbuka.
Petugas yang membukakan pintu lift yang macet tampak tersenyum di depan pintu lift setelah berhasil dibuka.
Para penumpang lift menyempatkan mengambil gambar dari petugas penyelamat.
google maps
Kejadian lift macet yan dialami Paris Hilton pada 17 Oktober 2015 itu seperti memuat isyarat terkait dengan aku juga, sebab pada tahun 1983 aku pernah pula mengalami lift macet di gedung perkantoran dan pertokoan Metro Pasar Baru di jalan Samanhudi, Krekot, dekat Pasar Baru, seperti yang pernah pula aku ungkapkan di “AB466. Film Tentang Terjebak Lift Setelah Aku Pulang Sebelum Kamu Datang“. Saat itu aku sedang kerja di perusahaan bursa komoditi, setelah menjalani training dari pagi, lalu pada siang hari bersama sekitar lima orang rekan menggunakan lift untuk turun dari lantai 8 lokasi kantor itu, ke lantai dasar. Belum sampai di lantai dasar, tiba-tiba lift mati. Kemudian aku ketahui lift itu mati saat lantai lift berada sekitar satu meter lebih tinggi dari lantai pada lantai dasar yang berupa pertokoan.
google maps
Pada peta itu juga ada rumah makan Medan di dekat jalan Lautze, jadi seperti terkait dengan “In 64 Like In 24 Target 7 Tahun Dan Helikopter Isyarat Jangan Datang Reuni Tetangga Sukabumi” yang memuat soal helikopter memuat lima orang jatuh di danau Toba dekat kota Medan pada 11 Oktober 2015 yang lalu, dan sampai saat aku tulis ini baru satu orang yaitu Fransiskus Subihardayan yang berhasil ditemukan dalam keadaan hidup sedangkan 4 orang masih belum ditemukan. Seperti terkait dengan namaku Firman yang dalam bahasa Jerman atau Belanda kata “fir” berarti 4, dan kesediaanku ketemu ajal saat naik pesawat kecil yang jatuh ke air laut yang dalam.
Posisi gedung perkantoran dan pertokoan Metro Pasar Baru itu pada peta terlihat  berada di tanah berbentuk segitiga, sehingga kalau digabung dengan jalan Pasar Baru akan seperti panah ke atas. Sesuai kesediaanku naik ke atas menghadap Yang Maha Kuasa ketemu ajal. Pada arah panah itu lalu ada jalan Lautze, sehingga seperti terkait kesediaanku ketemu ajal saat naik pesawat terbang kecil yang lalu jatuh ke laut dalam.
google maps street view
Perkantoran dan pertokoan Metro Pasar Baru berada di tanah berbentuk segitiga. Di seberang, atau sebelah kanan pada foto, adalah gerbang masuk ke Pasar Baru.
google maps street view
google maps street view
Ada ciri khas dari gedung Metro Pasar Baru itu yaitu di ujung-ujung bangunan terdapat bentuk seperti sirip roket ke bawah.
google maps street view
google maps street view
Gerbang masuk ke Pasar Baru dari seberang gedung pertokoan dan perkantoran Metro Pasar Baru  jalan Samanhudi, Krekot, Jakarta Pusat.
panoramio Gedung pertokoan dan perkantoran Metro Pasar Baru  jalan Samanhudi, Krekot, Jakarta Pusat, kalau dilihat dari dalam kawasan Pasar Baru.
myhotelmyresort Bagian dalam kawasan Pasar Baru, daerah pertokoan yang sudah dibangun sejak tahun 1820 pada jaman Belanda.
anekatempatwisata
Pada bagian atas gerbang Pasar Baru tertulis “Batavia” dan “Passer Baroe” serta tahun “1820”, tahun pendirian Pasar Baru.    myhotelmyresort
Ujung lain dari Pasar Baru, ujung bagian Selatan, berada dekat Gedung Kesenian Jakarta.           saranwisata
indonesianexplorer
Gedung Kesenian Jakarta di sebelah kiri foto, dan gerbang masuk Pasar Baru di sebelah kanan foto di kejauhan.     foto: google maps street view
Dan ini bagian yang sangat penting, kalau kita perhatikan ujung bawah dari panah di peta itu, terletak di dekat Gedung Kesenian Jakarta, sedangkan ujung atas mengarah ke jalan Lautze. Jadi seperti klop benar dengan soal aku jual lukisan-lukisanku, yang merupakan karya seni, lalu aku melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia menggali inspirasi, sebelum lalu aku ketemu ajal saat naik pesawat kecil yang jatuh di laut dalam.
google maps
streetdirectory.com
jakarta.panduanwisata.id
Gedung Kesenian Jakarta
indonesiawisata.info
wikipedia
djarumfoundation.org
Pada 17 Oktober 2015 itu juga, beberapa jam setelah pada pagi hari Paris Hilton mengalami lift macet di Shanghai, ada dua pertandingan Premier League pada malam hari waktu Jakarta yang berakhir dengan skor 3-0. Seperti isyarat lebih lanjut soal lift macet seperti yang aku alami tahun 1983 itu, dan keharusanku untuk tidak lagi memohon perpanjangan waktu kalau harus ketemu ajal, atau aku cuma akan menimbulkan bencana besar, seperti soal orang-orang terkait 3 menjadi 0 dan terjadi perebutan senjata pemusnah masal yang berujung kiamat. Dua pertandinan itu adalah antara Manchester United dengan Everton, dan antara Arsenal dengan Watford. Nama tim Everton seperti memuat makna “ever to end, no more asking for prolong …….”. Sedangkan nama tim Watford seperti terkait namaku Firman yang dalam bahasa Jerman atau Belanda kata “fir” berarti 4 atau “four” dalam bahasa Inggris, dan huruf “d” dari kata die terkait kesediaanku ketemu ajal. Jadi tim Watford seperti berarti “that’s what Firman should die for……”, mengingatkan pada lagu dari Dyonne Worwick yang dibawakan bersama Gladys Knight, Elton John dan Stevie Wonder, “That’s What Friends Are For”.

And if I should ever go away,
Well then close your eyes and try,
To feel the way we do today,
And then if you can remember,

Keep smiling, keep shining,
Knowing you can alwyas count on me, for sure,
That’s what friends are for,

 
 

Tanggal 17 Oktober 2015 jam 8.32 AM pagi hari waktu Jakarta, Paris Hilton kirim tweet mengenai baru keluar setelah terjebak dalam lift selama satu jam di kota Shanghai, Tiongkok. Sejak tanggal 15 Oktober 2015 memang Paris Hilton sedang berada di Tiongkok untuk beberapa kegiatan, termasuk acara pada 17 Oktober 2015 itu. Tidak disebutkan gedung apa itu yang mengalami lift macet saat ada Paris Hilton di dalam lift, tapi yang jelas pagi itu Paris Hilton datang untuk mencoba peralatan untuk acara malam hari.

Seperti memuat isyarat terkait dengan aku juga, sebab pada tahun 1983 aku pernah pula mengalami lift macet di gedung perkantoran dan pertokoan Metro Pasar Baru di jalan Samanhudi, Krekot, dekat Pasar Baru, seperti yang pernah pula aku ungkapkan di “AB466. Film Tentang Terjebak Lift Setelah Aku Pulang Sebelum Kamu Datang“. Saat itu aku sedang kerja di perusahaan bursa komoditi, setelah menjalani training dari pagi, lalu pada siang hari bersama sekitar lima orang rekan naik lift untuk turun dari lantai 8 lokasi kantor itu berada, ke lantai dasar. Beberapa saat kemudian setelah lift sempat bergerak turun, tiba-tiba lift mati. Baru pertama kali aku merasakan berada di dalam lift mati seperti itu, sebelum itu aku cuma sering dengar saja di berita koran atau di TV. Dan memang cukup membuat panik juga, aku dan rekan-rekan di dalam lift berteriak-teriak minta tolong sambil memukul-mukul pintu lift.

Padahal sekitar 4 tahun sebelum itu, waktu aku sakit keras tahun 1979 dan mengalami kejadian seperti sudah akan ditarik ruh dari dalam badanku sehingga aku memohon perpanjangan waktu, aku kemudian sempat berpikir itu adalah terakhir kali aku mohon perpanjangan waktu, kalau mengalami lagi kejadian ketemu ajal seperti itu, aku akan melepas saja, tidak mohon perpanjangan waktu lagi. Namun saat di dalam lift macet tahun 1983 itu, aku malah jadi khawatir belum cukup melakukan kebaikan di dunia ini, sehingga aku mohon jangan dipertemukan dulu dengan ajalku, aku mohon perpanjangan waktu lagi.

Gedung pertokoan dan perkantoran Metro Pasar Baru di jalan Samanhudi Krekot itu bukan perkantoran kelas satu seperti di Sudirman Thamrin, jadi lift yang ada di situ juga bukan lift yang bagus. Saat temanku berusaha membuka pintu lift, berhasil terbuka juga sedikit, sehingga ada celah sekitar 2 cm untuk dapat melihat keluar. Dari celah itu kita bisa mengetahui bahwa posisi lantai lift sekitar satu meter lebih tinggi dari lantai pertokoan itu, sehingga orang-orang di luar tampak berada lebih di bawah dari kami yang di dalam lift. Lantai pertokoan disitu seperti di Pasar Raya, misalkan pada lantai yang menjual minyak wangi di Pasar Raya Blok M, yang berupa ruang lebar yang di bagi-bagi etalase untuk masing-masing penjual. 

Setelah sekitar 10 atau 15 menit, pintu berhasil dibuka dari luar oleh teknisi gedung, yang kemudian aku ketahui ada lubang kunci darurat di bagian atas lift bagian luar pintu lift, untuk membuka pintu lift kalau macet. Sebelum menginjak lantai, kami harus lebih dulu menginjak kursi karena posisi lantai lift sekitar 1 meter lebih tinggi dari lantai pertokoan saat lift itu berhenti dan macet. Orang-orang di lantai pertokoan itu cukup ramai juga menonton kejadian itu, sehingga saat keluar dari lift seperti selebriti yang sedang disambut para penggemar.

Sekitar 17 tahun kemudian saat aku mulai tinggal di Wisma Cakra Cinere tahun 2000, beberapa bulan kemudian aku ketahui bahwa rekanku yang ikut mengalami macet di dalam lift itu yaitu Kemal, tinggal di Griya Cinere dekat dengan tempat tinggalku di Wisma Cakra Cinere. Sehingga sejak aku tinggal di Cinere aku jadi sering ketemu sama Kemal, baik saat dia sholat Jumat atau kalau aku lagi naik sepeda lewat dekat rumah dia. Ini jadi seperti peringatan dari langit, bahwa aku sudah pernah janji tidak akan memohon perpanjangan waktu lagi kalau ada momen hampir ketemu ajal, namun di tahun 1983 saat mengalami lift macet itu aku ternyata tetap memohon perpanjangan waktu juga. Jadi setiap kali ketemu lagi dengan Kemal, aku jadi seperti diingatkan untuk tidak mohon perpanjangan waktu lagi.

Kejadian Paris Hilton mengalami lift macet pada 17 Oktober 2015 itu seperti terkait juga dengan peringatan itu, sebab terjadi cuma satu hari setelah aku memuat “In 64 Like In 24 Target 7 Tahun Dan Helikopter Isyarat Jangan Datang Reuni Tetangga Sukabumi“, mengenai target satu tahun yang aku perpanjang jadi 7 tahun. Seperti peringatan setelah target berubah jadi 7 tahun, apakah lalu aku mohon perpanjangan waktu lagi. Moga-moga tidak, oleh sebab itu pula aku berharap agar segera terwujud penjualan lukisan-lukisanku agar tidak cuma menimbulkan polemik berkepanjangan.

Kalau kita perhatikan pada peta diatas, posisi gedung perkantoran dan pertokoan Metro Pasar Baru itu berada di tanah berbentuk segitiga, sehingga kalau digabung dengan jalan Pasar Baru akan berbentuk seperti panah ke atas. Sesuai kesediaanku naik ke atas menghadap Yang Maha Kuasa ketemu ajal. Pada arah panah itu lalu ada jalan Lautze, sehingga seperti terkait kesediaanku ketemu ajal saat naik pesawat terbang kecil yang lalu jatuh ke laut dalam. Dan pada peta itu juga ada rumah makan Medan di dekat jalan Lautze, jadi seperti terkait dengan “In 64 Like In 24 Target 7 Tahun Dan Helikopter Isyarat Jangan Datang Reuni Tetangga Sukabumi” yang memuat soal helikopter memuat lima orang jatuh di danau Toba dekat kota Medan pada 11 Oktober 2015 yang lalu, dan sampai saat aku tulis ini baru satu orang yaitu Fransiskus Subihardayan yang berhasil ditemukan dalam keadaan hidup sedangkan 4 orang masih belum ditemukan. Seperti terkait dengan namaku Firman yang dalam bahasa Jerman atau Belanda kata “fir” berarti 4, dan kesediaanku ketemu ajal saat naik pesawat kecil yang jatuh ke air laut yang dalam.

Pada 17 Oktober 2015 itu juga, beberapa jam setelah pada pagi hari Paris Hilton mengalami lift macet di Shanghai, ada dua pertandingan Premier League pada malam hari waktu Jakarta yang berakhir dengan skor 3-0. Seperti isyarat lebih lanjut soal lift macet seperti yang aku alami tahun 1983 itu, dan keharusanku untuk tidak lagi memohon perpanjangan waktu kalau harus ketemu ajal, atau aku cuma akan menimbulkan bencana besar, seperti soal orang-orang terkait 3 menjadi 0 dan terjadi perebutan senjata pemusnah masal yang berujung kiamat. Dua pertandinan itu adalah antara Manchester United dengan Everton, dan antara Arsenal dengan Watford. Nama tim Everton seperti memuat makna “ever to end, no more asking for prolong …….”. Sedangkan nama tim Watford seperti terkait namaku Firman yang dalam bahasa Jerman atau Belanda kata “fir” berarti 4 atau “four” dalam bahasa Inggris, dan huruf “d” dari kata die terkait kesediaanku ketemu ajal. Jadi tim Watford seperti berarti “that’s what Firman should die for……”, mengingatkan pada lagu dari Dyonne Worwick yang dibawakan bersama Gladys Knight, Elton John dan Stevie Wonder, “That’s What Friends Are For”.

Dan, ini bagian yang sangat penting, kalau kita perhatikan ujung bawah dari bentuk panah di peta itu, terletak di dekat Gedung Kesenian Jakarta, sedangkan ujung atas mengarah ke jalan Lautze. Jadi seperti klop benar dengan soal aku jual lukisan-lukisanku, yang merupakan karya seni, lalu aku melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia menggali inspirasi, sebelum lalu aku ketemu ajal saat naik pesawat kecil yang jatuh di laut dalam.

 
 

Jakarta,  21 Oktober 2015.
wassalam,

 
 

a.m. firmansyah
sms +62812 183 1538

 
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: